KARENA tulisan sebelumnya telah menyinggung Seno Gumira Ajidarma (SGA), maka saya lanjutkan saja di sini bagaimana saya “diselamatkan” olehnya. Sejak masuk kuliah pada 1998, saya langsung terlibat dalam organisasi mahasiswa pergerakan. Kurang lebih selama dua tahun, saya hampir tak pernah masuk kuliah (kadang pengakuan itu melegakan, haha). Bahkan konon, Dekan di kampus lebih memilih memanggil saya Aidit daripada Adit. Doa terbaik untuk beliau. Hingga kemudian, pada pertemuan mahasiswa Sastra Indonesia se-Indonesia saya sadar bila kurang membaca sastra. Kurang banget. Soal pertemuan mahasiswa itu, mungkin kali lain saya tuliskan. Kemudian saya bertekad mengejar ketertinggalan tersebut dan mulai membaca. Nah, kebetulan, buku […]
