
Tiba-tiba saya terantuk kata padu. Lema itu tercatat pada bahasa Indonesia serta Jawa. Uniknya, memiliki arti yang bertolak belakang.
Padu sudah muncul pada kosakata bahasa Jawa Kuno. Pada Kamus Indonesia-Jawa Kuno (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1990) terdapat kata padu yang terjemahannya adalah sudut dan pokok.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (VI Daring), padu memiliki tiga makna. Ketiganya terdiri dari satu kata kerja (verba) dan dua kata adjektiva.
Salah satu makna dari kelas kata adjektiva yakni utuh dan kuat; kompak. Pada kelas kata itu, ada label “ki” yang merujuk pada kiasan.
Makna lain dari kelas kata adjektiva yakni padat, pejal, kimpal (tentang logam dan sebagainya). Sementara makna padu dari kelas kata kerja adalah sudah bercampur dan sudah menjadi satu benar.
Padu juga muncul pada Kamus Bahasa Jawa Indonesia (https://kbji.kemendikdasmen.go.id). Pada situs tersebut, terjemahan kata padu ke bahasa Indonesia adalah bertengkar.
Bertengkar pada KBBI VI Daring adalah kelas kata kerja yang berarti berbantah; bercekcok.
Jadi makna padu pada bahasa Indonesia dan Jawa bisa dikatakan saling bertentangan.
Memang, ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan Jawa yang ditulis dengan susunan huruf yang sama (kadang juga dilafalkan sama) dan memiliki makna yang berbeda. Namun, maknanya tidak bertentangan.
Beberapa kata tersebut antara lain, abang (bahasa Indonesia: kakak laki-laki / bahasa Jawa: merah), banyak (tidak sedikit / angsa), jangan (tidak boleh / sayur), jarang (tidak sering / air panas), dan beberapa lainnya.
Kembali ke padu, perbedaan makna lema itu membawa saya pada kegamangan. Pada setiap perbincangan yang memunculkan kata tersebut, tak jarang saya harus bertanya ulang, padu mana yang dimaksud. Kebetulan perbincangan yang sering saya ikuti memang kerap mencampur bahasa Indonesia dan Jawa.
Semisal ada yang berkata, “Ayo padu!” maka harus ditanya padu yang bahasa Indonesia atau Jawa yang dia maksud. Kebetulan kata ayo juga sama-sama ada di KBBI VI Daring dan Kamus Bahasa Jawa Indonesia (https://kbji.kemendikdasmen.go.id) dengan arti yang relatif sama.
Kunci perbedaannya ada pada pelafalan konsonan “d”. Pada padu untuk bahasa Indonesia, “d” dilafalkan dengan tebal atau “dh”. Sementara padu pada bahasa Jawa, diucapkan dengan “d tipis”.
Bercermin pada padu, persoalan menangkap makna ternyata bisa tak mudah. Setidaknya tak semudah yang saya kira. Saya jadi khawatir, ada makna lain dari kata yang saya baca atau dengar yang menjadi tujuan sebenarnya dan justru sengaja disembunyikan.
Itu mungkin seperti mengkritik pemerintah tapi menerima uang dari aparat. Mengagungkan demokrasi tapi menjadi otoritarian. Memperbaiki gizi tapi.. wis, wis, hoppp… *
