Penulis Puisi

Siang menjelang sore di Taman Budaya Raden Saleh. Lelaki berambut panjang dan bertopi datang. Dia adalah penulis puisi yang karyanya saya kagumi, karena selalu menyuarakan kritik soal. Hampir selalu tepatnya, karena setelah berbincang pada kesempatan itu, pria lulusan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Diponegoro itu mengaku pernah juga menulis puisi yang lembut. Dia menyalami semua yang tengah duduk di depak rak buku kemudian duduk di bangku kayu. Meski saya mengenal puisi-puisinya yang “galak” tapi dia juga dikenal oleh semua orang sebagai sosok yang ramah. Singkat cerita, kami kemudian berbincang tentang pengalamannya bersastra pada masa Orde Baru. Ya, dia […]

Teater dan Wartawan atau Sebaliknya

Baru-baru ini, Dapur Pertunjukan Meramu menggelar aksi bertajuk Degustasi dalam 26 jam di Taman Budaya Raden Saleh. Beberapa seniman hadir mendukung kegiatan mereka. Dan para pelaku seni dari generasi yang berbeda itu kemudian terlibat dalam perbincangan berbagai topik. Salah satu perbincangan yang menarik bagi saya yakni tentang kedekatan teater dan wartawan di Kota Semarang. Perbincangan dibuka oleh Bang Ayun, sapaan akrab Nasrun M Yunus, yang mengungkapkan para pendiri Teater Waktu. Pria yang baru saja menyutradarai pertunjukan Teding Teater itu menyebut beberapa nama sebagai pendiri Teater Waktu yakni Agus Maladi Irianto, Agoes Dhewa, Prie GS, dan Handry TM. Doa terbaik untuk […]

Tentang Mimpi

Minggu (12/10) dini hari tadi, Tim Nasional Sepak Bola Putra Indonesia takluk 0-1 dari Irak. Hasil itu membuat Indonesia dipastikan tak bisa tampil pada Piala Dunia 2026. Mimpi jutaan pendukung langsung buyar. Mereka dibangunkan dengan kenyataan seiring matahari yang akhir-akhir ini terbit lebih awal. Sebagian mungkin merasakan kecewa yang dalam. Itu tak lebih karena mereka kadung bermimpi yang tinggi. PSSI sudah melakukan upaya yang luar biasa untuk meloloskan Indonesia ke Piala Dunia kali pertama (tidak menghitung 1938 karena masih bernama Hindia Belanda). Naturalisasi pemain hingga menghadirkan pelatih yang pernah menjadi striker ternama dilakukan. Langkah-langkah itu yang memupuk impian para pendukung, […]

Musyawarah

Saya baru-baru ini menghadiri musyawarah warga di RT tempat saya tinggal. Ya, benar. Kami membahas dana Rp 25 juta dari Pemkot yang dijanjikan cair dalam waktu dekat. Rapat tersebut dihadiri pemuda, ibu-ibu, serta bapak-bapak. Dan saya terus terang terkejut dengan antusiasme mereka. Mungkin adanya anggaran menjadi alasan utama. Tapi saya juga melihat kepedulian yang tinggi dari warga terhadap lingkungan yang kami tinggali bersama. Itu tercermin dari usulan-usulan yang muncul pada forum tersebut. Ibu-ibu mengusulkan jaminan kesehatan ibu dan anak. Bapak-bapak mengusulkan jaminan keamanan dan perbaikan infrastruktur yang ada. Semuanya terasa penting. Tapi tak semua bisa dilakukan. Sebab, kucuran dana tersebut […]

Teater Waktu setelah Milenium Kedua

Baru-baru ini, Hae Theatre merayakan ulang tahunnya yang keenam. Meminjam salah satu gedung milik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mereka menggelar serangkaian acara. Salah satunya yakni diskusi tentang teater di Semarang 20 tahun terakhir. Sesuai pada diskusi tersebut, saya akan sedikit membagi ingatan tentang masa-masa awal selepas Tahun 2000. Pada tulisan ini, saya ingin menyoroti pertunjukan-pertunjukan Teater Waktu. Sebagaimana diketahui, Teater Waktu merupakan salah satu kelompok yang telah menjadi legenda. Pemimpin sekaligus pendirinya adalah Agus Maladi Irianto (alm) yang juga dikenal sebagai akademisi setelah sempat menekuni dunia jurnalistik. Ada dua pertunjukan Teater Waktu pada lima tahun awal Tahun 2000. Yang […]

Kata-Kata Terakhir

“Hidup revolusi!”“Demi kehormatan dan negara!”“Bangsat!” Itu adalah ucapan dari tiga tokoh pada film seri One Hundred Years of Solitude yang tayang perdana di Netflix, baru-baru ini. Ketiganya melontarkan kata-kata tersebut sesaat sebelum dihukum mati dengan cara ditembak.Yang pertama keluar dari mulut seorang revolusioner. Dia dikisahkan memiliki kepandaian dalam hal agitasi sehingga mampu mempengaruhi sebagian besar warga, terutama pemuda, di Macondo untuk berpihak padanya. Macondo adalah kota yang menjadi latar dari film yang mengadaptasi novel berjudul sama karya penulis Kolombia yang pernah meraih Nobel, Gabriel Garcia Marquez.Yang kedua adalah lontaran dari seorang pendukung golongan konservatif, sedangkan yang ketiga muncul dari sosok […]

Tentang Tanda

BEBERAPA waktu lalu, saya mendapat kabar tentang dua orang nelayan yang hilang di lautan. Beberapa hari kemudian, jasad bapak dan anak tersebut ditemukan di pantai yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggal mereka. Perahu mereka entah di mana. Faktor cuaca buruk diduga menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Saat itu, musim hujan memang sedang puncak-puncaknya. Di laut, itu berarti ombak tinggi yang bisa datang sewaktu-waktu dan mungkin bersamaan dengan arus yang deras. Saya tersentuh dengan kabar tersebut. Saya bertanya-tanya, apa yang kira-kira mereka lakukan sebelum berangkat. Apa yang mereka perbincangkan sebelum melaut. Adakah tanda yang muncul bahwa keberangkatan mereka saat itu adalah […]

Seorang Pria dan Beberapa Tragedi

SAYA baru saja bertemu dengan seorang pria yang sangat ramah. Kami berbincang ditemani siang dan rokok beberapa batang.Usianya sudah lebih dari kepala enam. Meski bukan asli Semarang, dia sudah tinggal cukup lama di kota ini.Pada perbincangan yang sayangnya menurut saya sangat singkat, dia cerita bagaimana kehidupannya yang dekat dengan tragedi.Dimulai dari 1965. Meski masih anak-anak pada masa itu, dia mengungkapkan bagaimana dampak yang dialaminya. Menurutnya, tindakan yang sekarang dikenal sebagai perundungan atau bullying kerap diterima.Bertahun-tahun dia harus bertahan dengan kondisi tersebut. Saat SMA, dia melanjutkan cerita, daerah tetangga tempat dia tinggal diguncang gempa yang cukup merusak. Bersama teman-temannya yang lain, […]

“Diselamatkan”

KARENA tulisan sebelumnya telah menyinggung Seno Gumira Ajidarma (SGA), maka saya lanjutkan saja di sini bagaimana saya “diselamatkan” olehnya. Sejak masuk kuliah pada 1998, saya langsung terlibat dalam organisasi mahasiswa pergerakan. Kurang lebih selama dua tahun, saya hampir tak pernah masuk kuliah (kadang pengakuan itu melegakan, haha). Bahkan konon, Dekan di kampus lebih memilih memanggil saya Aidit daripada Adit. Doa terbaik untuk beliau. Hingga kemudian, pada pertemuan mahasiswa Sastra Indonesia se-Indonesia saya sadar bila kurang membaca sastra. Kurang banget. Soal pertemuan mahasiswa itu, mungkin kali lain saya tuliskan. Kemudian saya bertekad mengejar ketertinggalan tersebut dan mulai membaca. Nah, kebetulan, buku […]

Jodoh Buku

BARU-BARU ini, saya akhirnya berhasil memiliki buku Nagabumi III karya Seno Gumira Ajidarma. Itu bukan buku yang baru terbit, memang. Sejak lahir pada 2019 lalu, saya sudah ingin mempunyainya. Tapi bagi buruh berpenghasilan pas-pasan seperti saya ini, tentu butuh beberapa kali berpikir untuk membelinya. Jadi, saya pilih menunggu, siapa tahu saat Gramedia, penerbitnya, menggelar bursa buku, harganya termasuk yang didiskon. Setiap promo, baik di toko yang luring maupun daring, saya selalu memantau. Kadang sudah didiskon, tapi diskonnya kurang besar. Jadi saya bersabar. Kira-kira sebulan sebelum mendapatkannya, saya sempat melihat ada toko buku daring yang menjualnya dengan diskon cukup besar. Jika […]