Minggu (12/10) dini hari tadi, Tim Nasional Sepak Bola Putra Indonesia takluk 0-1 dari Irak. Hasil itu membuat Indonesia dipastikan tak bisa tampil pada Piala Dunia 2026.

Mimpi jutaan pendukung langsung buyar. Mereka dibangunkan dengan kenyataan seiring matahari yang akhir-akhir ini terbit lebih awal.

Sebagian mungkin merasakan kecewa yang dalam. Itu tak lebih karena mereka kadung bermimpi yang tinggi.

PSSI sudah melakukan upaya yang luar biasa untuk meloloskan Indonesia ke Piala Dunia kali pertama (tidak menghitung 1938 karena masih bernama Hindia Belanda). Naturalisasi pemain hingga menghadirkan pelatih yang pernah menjadi striker ternama dilakukan.

Langkah-langkah itu yang memupuk impian para pendukung, termasuk saya, hingga tumbuh tinggi. Tapi itu semua sirna.

Ah, mimpi.

Herbert George Wells (1866-1946) pernah menulis novel bertajuk The Dream pada 1925. Singkat cerita, novel tersebut mengungkapkan sang tokoh yang menjadi seseorang pada masa lalu dalam mimpinya. Mimpi tersebut baginya tampak nyata, sehingga dia kebingungan mana kehidupan yang sebenarnya dan mana mimpi.

Pada 1986, grup rock asal AS, Van Halen merilis album bertajuk 5150. Pada saat itu, diperkuat vokalis baru Sammy Hagar, mereka mempersembahkan lagu berjudul “Dreams”.

Diciptakan bersama oleh Hagar, kakak adik Van Halen, serta Michael Anthony, lagu tersebut mengungkap pentingnya untuk tetap berdiri tegak meski mimpi telah hancur. Meski begitu, mereka mengungkapkan bila mimpi itu penting. Karena, “And in the end. On dreams we will depend. Cause that’s what love is made of.”

The Cranberries juga pernah membuat lagu berjudul “Dreams”. Lagu tersebut menjadi single pertama dari album Everybody Else Doing It, So Why Can’t We? yang dirilis 1992.  

Dari dunia film, ada sebuah karya Akira Kurosawa yang berjudul Dreams. Film tersebut konon memvisualkan mimpi-mimpi yang dialami sendiri oleh sang sutradara. Terbagi dalam beberapa fragmen, film yang diproduksi pada 1990 itu didukung oleh Steven Spielberg dan George Lucas dan menampilkan Martin Scorcese sebagai salah satu pemain.

Masih banyak karya yang mengangkat tema mimpi. Semua itu menunjukkan bila tak salah memiliki mimpi. Bila belum tercapai, teruslah berjuang. Bila tak bisa tercapai, ciptakan mimpi yang lain. Selamat datang Piala Dunia 2030! Halah..

TBRS, 13 Oktober 2025

*Keterangan gambar : Salah satu lukisan pada pameran bertajuk Mijil di Taman Budaya Raden Saleh, baru-baru ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *