
Teater Lingkar kembali menggelar pementasan dengan lakon ‘Sang Panggung”. Lakon tersebut merupakan adaptasi naskah bertajuk “Nyi Panggung” karya Eko Tunas. Pementasan dilangsungkan di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Sabtu, 29 Juni 2024.
Lakon “Sang Panggung” ini pernah dipentaskan empat tahun lalu sekaligus merupakan karya yang diajukan sebagai Tugas Akhir Program S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dari sang sutradara Sindhunata Gesit Widharto.
Lakon tersebut mengusung kisah pelaku seni tradisi ketoprak tobong yang kian terasing di kampungnya sendiri.
Teater Lingkar yang sudah membumi 44 tahun di Kota Semarang lewat pementasan ini menggugat keadaan yang fana ini. Seniman tradisi untuk mempertahankan eksistensi harus beradaptasi dengan zaman penonton milenial dan Gen Z.
Pementasan lakon ”Sang Panggung” ini didukung para pelaku dari anggota Teater Lingkar (Semarang) antara lain; Denmas Eko/Dalang (Sindhu), Nyi Gadhung Mlathi (Niken), Darbol (Kris Ganza), Bandhot/Bandhung Bandhawasa (Roso Power) Laras/Lara Jonggrang (Ning), Paimin (Tatang), Jabrud (Pay) Tukang Pijat (Budibobo), Bodrex/Prabu Baka (Prieh Raharjo), Jujuk (Dwiq), dan para penari.
Sang sutradara Sindhunata mengatakan, kalau dia merombak habis-habisan naskah “Nyi Panggung” menjadi “Sang Panggung. Sindhu yang juga dikenal sebagai dalang ini atas seizin penulisnya mengambil ruh, tema, dan semangat lakon yang ditulis Eko Tunas.
Konsep Pakeliran Sampakan “Sang Panggung” ini merupakan pementasan bentuk perpaduan antara pakeliran wayang kulit, tari, teater tradisi (ketoprak) dalam satu panggung besar yang terbagi dalam beberapa panggung kecil.
Kalau dalam “Nyi Panggung” hanya satu pemeran (Nyi Panggung) yang jadi fokus cerita atau daya tarik cerita, tetapi dalam “Sang Panggung” besutan Sindhu ini , semua pemain punya peran sesuai dengan tokoh yang dimainkannya.
Pementasan “Sang Panggung” lebih kompleks, meriah, dan menarik, apalagi naskah ini digarap dengan konsep sampakan. Dialog-dialog dalam pementasan ini mengusung narasi berupa persoalan-persoalan kehidupan keseharian awak panggung. Dialog-dialognya juga menarasikan kegelisahan tentang keberlangsungan kehidupan seni tradisi yang selama ini digeluti dan jadi satu-satunya tumpuan kehidupan. Hingga menukik kepersoalan bangkrutnya kesenian tradisi.
Dikisahkan, Denmas Eko (yang diperankan Sindhunata) pemilik tobong ketoprak Eko Mardhika yang didukung awak ketopraknya mencoba untuk bertahan hidup dengan segala daya upayanya agar tobong kehidupannya tak bangkrut.
Pergelaran lakon “Sang Panggung” ini sarat pesan dan muatan moral. Sindhunata menandaskan, Sang–adalah sesuatu yang terhormat. Sedangkan Panggung dalam hal ini merupakan ruang yang tak terbatas dan sebagai tempat dalam menumbuhkembangkan kreativitas seni tradisi yang elok, agar tak tergusur tetapi juga disukai milenial bertumbuh kembang dan lestari.(*)
