Bagikan informasi ini

“Hidup revolusi!”
“Demi kehormatan dan negara!”
“Bangsat!”

Itu adalah ucapan dari tiga tokoh pada film seri One Hundred Years of Solitude yang tayang perdana di Netflix, baru-baru ini. Ketiganya melontarkan kata-kata tersebut sesaat sebelum dihukum mati dengan cara ditembak.
Yang pertama keluar dari mulut seorang revolusioner. Dia dikisahkan memiliki kepandaian dalam hal agitasi sehingga mampu mempengaruhi sebagian besar warga, terutama pemuda, di Macondo untuk berpihak padanya. Macondo adalah kota yang menjadi latar dari film yang mengadaptasi novel berjudul sama karya penulis Kolombia yang pernah meraih Nobel, Gabriel Garcia Marquez.
Yang kedua adalah lontaran dari seorang pendukung golongan konservatif, sedangkan yang ketiga muncul dari sosok pembela liberalisme. Dalam cerita itu, memang dikisahkan bila kedua golongan tersebut bermusuhan dan terlibat perang bertahun-tahun.
Jika tidak terlewat saat membaca, tidak semua kalimat itu berasal dari novel yang terbit perdana pada 1967 dan telah diterjemahkan ke puluhan bahasa termasuk Bahasa Indonesia. Marquez bahkan, sekali lagi kalau tidak terlewat saat membaca, hanya menulis salah satu saja. Di situ, duet sutradara film seri yang baru rilis delapan dari rencana 16 episode, Alex Garcia Lopez dan Laura Mora menunjukkan kuasanya.
Lepas dari itu, ketiga terhukum mati tersebut, sepertinya juga semua terhukum mati, bisa dikatakan masih beruntung mengingat mereka diberi hak untuk mengucapkan kata-kata terakhir. Kiranya, cukup banyak orang yang tak memiliki kesempatan serupa.
Lantas, bila kita diberi kesempatan untuk mengucapkan kata-kata terakhir, apakah bunyinya akan seperti tiga sosok dalam film tersebut?
Jika dilihat, kata-kata terakhir mereka adalah kata-kata yang menunjukkan siapa dirinya. Tentu lebih kepada para pemegang senjata yang akan menembak atau pemilik kuasa yang memerintahkan hukuman mati untuk mereka. Karena itu, seorang revolusioner memilih meneriakkan keyakinan akan datangnya perubahan yang dicitakan.
Ya, ini adalah kata-kata terakhir.
Beda dengan wasiat. Wasiat bisa disiapkan sejak lama baik dalam bentuk tulisan atau audio visual. Setelah menulis atau mengucapkannya, kita masih punya kesempatan menulis atau berbicara lagi.
Sementara setelah mengucapkan kata-kata terakhir, tak ada lagi yang lain.
Tidak ada.
Kata-kata itu adalah jembatan dari ada ke tiada.
Jadi, seperti apa kata-kata terakhir kita.
Jika merujuk tiga tokoh pada film yang sejauh ini mendapat ulasan cukup baik tersebut, untuk menentukan kata-kata terakhir sepertinya kita harus menjawab sebuah pertanyaan lebih dulu, siapa diri kita.

Nah, mumpung bicara tentang yang akhir-akhir, kebetulan tulisan ini dibuat pada malam terakhir 2024. Mari kita sambut 2025 dengan harapan dan optimisme. Semoga tahun depan yang dimulai besok berlangsung lebih baik dari sebelumnya. Oya, ada baiknya nonton dan membaca One Hundred Years of Solitude.

Viva Revolusi! Eh, selamat tahun baru!

Kota Semarang, 31 Desember 2024

*Foto : economictimes.indiatimes.com

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *