
Sebagai pembuka, saya ingin menyampaikan terima kasih sekaligus penghormatan pada Mas Odi Shalahuddin. Dia adalah pembuat kliping tentang teater yang dikabarkan melalui seputarteater.wordpress.com. Sungguh itu suatu upaya yang luar biasa.
Dari situs itu pula, kemudian terbit keinginan untuk menulis ini. Saya mendapat cukup banyak informasi tentang teater atau seni pertunjukan di Kota Semarang. Terutama catatan berangka puluhan tahun lalu.
Salah satu yang menarik saya adalah masa-masa setelah kemerdekaan dan sebelum Orde Baru berdiri. Kali ini, saya ingin menengok masa 1950-an. Ini masa yang menarik, karena perang kemerdekaan telah usai sehingga sepertinya kehidupan mulai berjalan, dan sebagian menemukan kemapanannya, termasuk bidang kesenian.
Kliping tertua yang memuat pementasan di Kota Semarang yang ditemukan Mas Odi, jika tak salah, berangka 1952. Isinya mengupas pertunjukan sandiwara klasik “Mekar Bunga Madjapahit” yang dimainkan oleh beberapa anggota Himpunan Pemuda Puteri Indonesia Bagian Kebudayaan Semarang. Tulisan itu dimuat majalah Aneka.
Pada 1953, dari majalah yang sama, muncul tulisan yang mengulas pementasan drama berjudul “Peristiwa dalam Kabut.” Disebut pula, itu adalah kali pertama di Kota Semarang ada sandiwara yang semuanya dikerjakan oleh pelajar. Penulis cerita, pemain, dan pimpinan produksi beserta kru semuanya adalah pelajar.
Kemudian dari tulisan B Sularto pada 1958 di majalah yang sama pula, kita juga bisa tahu bila sebuah pertunjukan yang dinilai berhasil justru lahir dari para wartawan pada 1955. Pada tahun itu berdiri organisasi kesenian (amatir) bernama Pusat Kebudayaan.
Sularto kemudian menyebut 1956 sebagai masa vakum pementasan di Kota Semarang. “Sampai akhir tahun 1956, benar-benar terasa matinya nafas kehidupan seni drama di kota itu,” tulisnya.
Baru pada 1957 kehidupan teater di Kota Semarang kembali bergeliat. Pementasan demi pementasan kembali bergulir. Lahir pula beberapa kelompok kesenian seperti Gaja Dinamika dan ikatan Seniman Sandiwara Asli (ISSA).
Dari sini, saya beralih pada buku Tuan Tanah Kawin Muda. Di situ Hersri Setiawan mengungkapkan pernah mendatangi kampung Tambaklorok pada 1959 dan mendapati pertunjukan yang dimainkan oleh warga setempat yang sebagian besar adalah nelayan. Cerita yang ditampilkan juga berkisar tentang keseharian mereka.
Hersri juga menyebut bila pada masa itu Gedung Sobokartti aktif menjadi tempat pertunjukan wayang orang, ketoprak, atau drama. Sementara kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo juga rutin tampil di gedung sebelah GRIS. Pertunjukan Wayang Potehi juga bisa ditemui di trotoar sekitar Pasar Yaik pada petang hari tertentu.
Sementara itu, buku Semarang yang disusun Soekirno selaku Acting Kepala Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang dan diterbitkan pada 1956, mengungkap data bertajuk Hasil Usaha Keluar dari Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang selama tiga tahun. Jadi tampaknya, sandiwara menjadi salah satu usaha dari Djawatan Penerangan bersama siaran radio, pemutaran film, dan lainnya.
Data tersebut menyebutkan bila pada 1953, ada 43 kali pertunjukan sandiwara dengan total penonton mencapai 56.435. Sementara setahun berikutnya, tercatat 34 kali pertunjukan dengan 35.040 penonton. Pada 1955 jumlah pertunjukan semakin sedikit yakni hanya 19 kali dengan jumlah penonton 11.750.
Terbayang iklim berkesenian terutama teater pada satu dekade itu. Sebagai tambahan, pada masa itu pula Kota Semarang memiliki penanda yang ternama hingga kini. Tugu Muda dibangun mulai 1952 dan diresmikan pada 1953.
Dinamika tersebut sejalan dengan iklim di tingkat nasional. Pada masa itu, lahir berbagai lembaga kebudayaan seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (1950) dan Lembaga Kebudayaan Nasional (1959). Kemudian lembaga pendidikan seni seperti Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) pada 1951 di Yogyakarta dan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada 1955 di Jakarta.
Nah, jika ingin tahu lebih lengkap, jangan ragu untuk membuka situsnya dan membaca bukunya.
Kota Semarang, 31 Maret 2024
Keterangan Foto: Kalimat pembuka pada pendahuluan buku berjudul Semarang yang terbit 1956.
