
Beberapa waktu lalu, pimpinan Teater Lingkar, Mas Ton mengirim pesan lewat Whatsapp. Dia bertanya soal acara peringatan Hari Teater Sedunia (biasa disingkat Hatedu). Biasanya, para aktivis teater di Kota Semarang memeringatinya dengan berbagai gelaran acara.
Saat saya menjawab bila acara tersebut tengah dipersiapkan oleh rekan-rekan anggota teater kampus, dia kemudian menjawab (dengan mungkin setengah curhat). “Teater kampung hanya Lingkar ik.”
Istilah teater kampung menurut saya bisa dikatakan sama dengan teater umum. Kelompok teater yang menerima anggota dari berbagai usia, profesi, serta lokasi. Tidak sama dengan teater kampus yang hanya menerima anggota dari mahasiswa kampus tersebut (meski pada suatu masa ada yang coba mendobrak batasan tersebut, tapi tetap saja yang utama adalah mahasiswa di situ).
Bila ingin dirunut, teater kampung bagi saya adalah adalah kelompok yang menerima anggota dari satu kampung saja. Dulu, Lingkar dan beberapa kelompok lain mungkin pernah menjadi teater kampung. Lingkar sependek pengetahuan saya adalah kelompok yang lahir di kampung sekitar Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sekarang. Sekarang mereka memiiki sanggar di Gemah, Kedungmundu.
Tapi sekarang Lingkar saya kira lebih tepat disebut sebagai teater umum. Lantas saya berandai dengan mengganti “curhatan” Mas Ton tadi menjadi, “Teater umum hanya Lingkar ik.”
Di situ saya sedih. Halah.
Harus diakui teater umum di Kota Semarang yang konsisten hadir lewat pertunjukan demi pertunjukan dalam kurun waktu puluhan tahun memang hanya Lingkar. Mereka kini adalah kelompok teater tertua di Kota Semarang.
Singkat cerita, pada 28 Maret lalu, sehari setelah Hatedu, saya datang ke TBRS. Di situ, saya menemukan jawaban dari “curhatan” Mas Ton.
Saya bertemu dengan rekan-rekan Teater Hae yang tengah berlatih. Umam, Bagus, Ajeng, Fauzi, dll terlihat serius mempersiapkan pertunjukan yang kabarnya bakal dilakukan bulan depan.
Teater Hae dibentuk oleh alumni Teater Emka FIB Undip. Mereka adalah teater umum.
Saya juga bertemu dengan Mahran Nazih. Mantan Ketua Teater Dipo (Undip) yang juga dikenal sebagai rapper. Dia tengah berlatih bersama Mangga Pisang Jambu Project (MPJP) untuk sebuah pertunjukan.
MPJP adalah kelompok yang dibentuk pada 2012 dan meski sempat vakum, beberapa tahun terakhir mereka hadir kembali. Mereka adalah teater umum.
Saya juga bertemu dengan Obed dan Sandiman dari ACC (Art and Cultur Center) Group. Pada hari itu mereka resmi merekrut Nazih untuk bergabung. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri prosesnya dan cukup menyenangkan. Dari situ, saya menangkap semangat mereka untuk berbuat sesuatu bagi kesenian.
ACC Group adalah kelompok yang baru dibentuk tahun lalu. Kegiatan pertama mereka adalah pentas teater bertajuk “Sendang Panguripan.” Karena itu, saya kira bisalah kita menyebut ACC Group juga teater umum (meski mereka telah merambah panitia penyelenggaraan dan ingin pula ke film, musik, agensi, pendataan, dan lainnya, dan lainnya.. walahhh..).
Menjelang tengah malam, saya juga bertemu dengan Mas Alfi. Pelatih teater di beberapa sekolah yang kerap menerima penghargaan itu, beberapa tahun lalu mendirikan Teater Matajiwa. Mereka telah menggelar pementasan beberapa kali.
Matajiwa adalah teater umum.
Ada juga sekelebatan, saya melihat Mas Zoex Zabidie. Dia adalah pendiri Teater Merah serta Dramalab. Bersama rekan-rekannya yang lain, Mas Zoex sudah beberapa kali manggung.
Teater Merah serta Dramalab adalah teater umum.
Jadi kiranya jelas, bila teater umum di Kota Semarang bukan hanya Lingkar. Tapi jelas pula bila kelompok-kelompok tersebut perlu belajar pada Lingkar tentang konsistensi, manajemen, dan lainnya sehingga bisa bertahan dalam usia yang tak pendek.
Kota Semarang, 30 Maret 2024

Kita belum selesai, masih berkutat pada definisi ke definisi. Menarik tulisan Mas Ketua, dalam framing padat memang ayal untuk memasukkan banyak faktor pemengaruh. Nikmati tegukan terakhir di cangkir inj, barangkali jawaban di cangkir berikutnya.