
BEBERAPA waktu lalu, saya mendapat kabar tentang dua orang nelayan yang hilang di lautan. Beberapa hari kemudian, jasad bapak dan anak tersebut ditemukan di pantai yang jaraknya puluhan kilometer dari tempat tinggal mereka. Perahu mereka entah di mana.
Faktor cuaca buruk diduga menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Saat itu, musim hujan memang sedang puncak-puncaknya. Di laut, itu berarti ombak tinggi yang bisa datang sewaktu-waktu dan mungkin bersamaan dengan arus yang deras.
Saya tersentuh dengan kabar tersebut. Saya bertanya-tanya, apa yang kira-kira mereka lakukan sebelum berangkat. Apa yang mereka perbincangkan sebelum melaut. Adakah tanda yang muncul bahwa keberangkatan mereka saat itu adalah kepergian untuk selamanya.
Soal cuaca bisa jadi ada. Gelap langit atau mendung serta angin bisa menjadi tanda bahwa cuaca buruk akan datang. Nelayan pasti tahu. Tapi nelayan juga tahu, cuaca di laut kadang cepat berubah. Apa yang semula tampak baik, bisa berubah buruk dengan lekas.
Pertanyaan tentang tanda itu yang kembali mendatangi saya saat mendengar beberapa kabar duka baru-baru ini. Lewat media sosial, saya coba menelusuri. Banyak komentar yang diunggah menyatakan keterkejutan.
Ada yang mengungkapkan bila malam sebelum kabar duka itu datang, mereka masih berbalas komentar. Ada yang menyatakan bila beberapa jam sebelum berita lara itu nyata, mereka masih memberi pesan.
Tak ada tanda. Atau mungkin, kita yang kurang cakap membacanya.
Pak Budi, Mas Meong, dan Eli. Doa terbaik untuk kalian. Terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas perjumpaan-perjumpaan yang meski tak cukup banyak, tapi selalu menyenangkan. Saya bersaksi kalian adalah orang-orang baik.
Kota Semarang, September 2024
