
BETANEWS.ID, SEMARANG – Di Kepulauan Riau terdapat genre seni teater
berjuluk Mak Yong. Genre ini merupakan seni tradisional masyarakat Melayu
dengan muatan budaya lokal. Mak Yong sebenarnya merupakan pertunjukan
dramatari dengan melibatkan penari, pencerita, dan beberapa pemain musik.
Mak Yong pada umumnya bercerita tentang kehidupan kerajaan bercorak
Melayu. Pertunjukan Mak Yong sarat dengan pesan-pesan yang tertuju
kepada penontonnya. Selain di Kepulauan Riau, Mak Yong juga populer di
beberapa wilayah di Malaysia dan Thailand.
Lewat genre Mak Yong ini, sebuah kelompok kesenian asal Batam bernama
Teater Pomponk membawa pertunjukannya ke Kota Semarang. Pertunjukan
yang dilakukan pada Jumat malam kemarin tersebut merupakan bagian dari
rangkaian agenda peringatan Hari Musik Dunia 2023 oleh Dewan Kesenian
Semarang (Dekase).
Dalam gelaran berlabel “Gilo-gilo Semarang 2023” itu, Teater Pomponk
menghadirkan pertunjukan swacakap atau monolog dengan judul
“Terawang-awang.”
Pertunjukan Mak Yong ini hanya dilakukan seorang diri oleh sang pemain,
Tony Blensto. Hal ini sedikit keluar dari pakem Mak Yong yang melibatkan
beberapa unsur di luar pencerita. Secara keseluruhan Tony memilih tidak
mengenakan topeng sebagaimana lazimnya Mak Yong ala Batam.
Properti topeng hanya dimunculkan di tarian pembukaan berupa siluet
cahaya yang lagi-lagi Tony lakukan sendiri. Ia juga tidak membawa pemain
musik karena alasan teknis. Dalam swacakap itu Tony diiringi oleh alunan
musik Melayu berupa rekaman audio.
Menurut Tony, pertunjukan Mak Yong di antaranya membawakan legenda
atau cerita rakyat. Judul pada pertunjukan “Terawang-awang” Tony ini
mengambil salah satu nama tokoh dalam kisah-kisah Mak Yong yang
bernama “Awang.”
Kisah Awang menceritakan tentang seorang pembantu dalam sebuah istana
yang mendapatkan kepercayaan dari sang raja sebagai penasihat pribadi.
Karakter Awang adalah seorang pria tua yang jenaka, jujur, dan berani. Ia
memiliki banyak keleluasaan dalam memberi masukan kepada raja tentang
persoalan kerajaan. Bahkan Awang pun sesekali bisa mengkritik rajanya yang
merupakan seorang perempuan itu.
Di panggung yang hanya berisi dua bangku sebagai properti, Tony
memadukan swacakapnya dengan kisah yang kekinian. Ia bercerita tentang
kehidupan nyata yang ia alami di Batam. Bahkan cerita realis Tony ini
mendominasi pertunjukan swacakapnya. Mulai dari memutar balikkan sudut
pandang kehidupan di Batam yang secara umum dipahami masyarakat
Indonesia, terutama di Jawa.
Tony bercerita bahwa kehidupan di Batam tidak segemerlap yang orang kira
selama ini. Problem-problem masyarakat Indonesia secara umum juga terjadi
di Batam, termasuk soal transportasi dan ekonomi masyarakat. Di bidang
kesenian, Tony bahkan menyebut jika pemerintah setempat tidak banyak
memfasilitasi ruang-ruang pertunjukan seni, termasuk tidak adanya konsep
taman budaya. Sejalan, perkembangan seni teater di Batam pun menurut
Tony tidak berlangsung dengan baik.
“Saya kalau main teater biasanya di parkiran mal. Di sana tidak ada taman
budaya,” beber Tony.
Teater Pomponk berdiri sejak 2003 dengan Tony sendiri sebagai salah satu
dari lima pendirinya. Sebutan Pomponk diambil dari nama sebuah moda
transportasi zaman dahulu di Batam.
Alfianto, Komite Teater Dekase mengapresiasi pertunjukan Tony. Dirinya
yakin dunia teater di Batam akan semakin berkembang dengan salah satunya
lewat inisiatif yang seperti Tony lakukan.
“Memang kebanyakan perkembangan teater di seputar Kepulauan Riau
perkembangannya agak terlambat. Tapi saya yakin di tangan Mas Tony akan
semakin pesat,” puji Alfianto.
Editor: Ahmad Muhlisin
Sumber: Lewat Mak Yong, Teater Pomponk Ceritakan Sisi Lain Kehidupan di Batam – Beta News
