(Tentang Cerpen-Cerpen di Suara Merdeka Bulan Maret)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya ketika membaca cerpen-cerpen yang dimuat di Suara Merdeka pada bulan Maret 2025 akan bertemu dengan hal ganjil. Memang pada bulan Maret ini umat Muslim merayakan Ramadan, di mana malam ganjil adalah malam yang paling ditunggu. Namun ini ganjil yang berbeda. Ganjil yang tidak ditunggu atau dinanti-nantikan kehadirannya. Ganjil yang bukan tentang kebijakan harus berjalan bergantian dengan genap. Ganjil yang diceritakan dalam Suara Merdeka adalah tentang kekonyolan hidup, kejadian yang tidak masuk akal, kegetiran, peristiwa tragis, kekosongan jiwa, kehampaan, perasaan tidak berarti, sekaligus sia-sia. Dalam kata lain ganjil yang berbicara tentang absurdisme.

Melanie Budianta dalam buku Absurdisme dalam Sastra Indonesia (2007) mencoba menjelaskan tentang cara pandang hidup atau falsafah yang dinamakan absurdisme. “Absurdisme memandang bahwa kekonyolan dan kesia-siaan hidup adalah kenyataan yang hakiki dari keberadaan manusia, yang dihadapi terutama oleh orang kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari.” Falsafah absurdisme ini erat kaitannya dengan modernisme dan pemikiran eksistensialisme yang disuarakan oleh Jean Paul Sartre, Albert Camus, Nietzsche dan lain-lain.

Cerpen pertama yang akan kita bahas berjudul “Langit di Kaki Mereka” ditulis oleh Moehammad Abdoe. Dimuat di Suara Merdeka pada tanggal 16 Maret 2025.  Cerpen ini betul-betul absurd. Sebelumnya, mari kita simak penjelasan Melanie Budianta tentang ciri lakon-lakon absurd: “Alur dengan sengaja dibuat datar, tanpa awal dan akhir yang jelas, atau alur melingkar yang mengembalikan akhir ke awal lakon. Tokoh-tokoh muncul dengan identitas yang tidak jelas, atau bahkan tak bernama, atau jika ada identitasnya, adalah orang-orang kecil yang “tak  berwajah”, yang meragukan atau mempertanyakan identitasnya sendiri.” Sepenggal kutipan dari tulisan Melanie Budianta dalam “Absurdisme dalam Sastra Indonesia” tersebut mewakili penggambaran cerpen “Langit di Kaki Mereka”.

Pembaca cerpen Moehammad Abdoe merasa terpisah dari realitas dan masuk ke sebuah dunia imajinatif yang dibuat oleh penulis sejak dari awal pembuka cerita. Tidak ada latar tempat yang pasti. Penggambaran keadaan yang ganjil membuat dunia dalam cerita terlampau asing dan berbeda. “Kau bangun hari ini dengan kepala penuh rasa ganjil, seolah gravitasi tak lagi berfungsi seperti biasa. Kau berusaha menggoyangkan kepala, berpikir mungkin hanya semacam pusing biasa akan berlalu, tapi ada yang lebih aneh dari sekadar itu. Di sudut jendela, kau melihat langit—tapi bukan langit biru dengan awan yang menggantung. Tidak, yang kau lihat adalah semacam kota lain di atas sana, dengan bangunan-banguan yang terbalik, menggantung seperti kelelawar. Kau menggelengkan kepala berharap hal itu hanya ilusi. Tapi tidak. Dunia seolah diputarbalikkan, dan kau berada di tengah-tengahnya.” Yang sedang mengalami jungkir balik bukan manusia. Tapi dunia. Tentu ini sebuah penggambaran yang mencekam. Maka untuk menghadapi kondisi ini manusia harus melihat segalanya dengan serba terbalik. Seolah menjadi anak-anak yang berjalan sambil kayang. Atau berjalan dengan tangan dan kaki berada di atas. Seperti sebuah permainan di masa kecil yang melatih kekuatan tangan dan ingin melihat segala dengan sudut pandang berbeda. Anak-anak akan tertawa ketika melakukannya karena dunia menjadi tampak lucu dengan cara pandang yang demikian.

Dalam cerpen ini, seperti tipikal lakon bergaya absurd yang sudah dijabarkan oleh Melanie Budianta, tidak ada nama tokoh di dalamnya. Hanya ada tokoh aku dan seorang laki-laki tua berjubah kelabu. Tanpa ada keterangan lebih jauh tentang keduanya. Mereka bercakap hanya untuk mengabarkan kondisi dunia yang sebetulnya sudah lama terbalik namun tidak disadari oleh tokoh aku. “Langit itu bukan terbalik. Kau yang selama ini berjalan terbalik. Kau tak pernah benar-benar melihat apa yang ada di sekitarmu. Semua orang di kota ini, di dunia ini, hidup dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Mereka menganggap itu wajar, karena sudah terbiasa. Sistem yang membuat mereka terbiasa.” Kita tidak sedang diajak melihat permainan anak-anak. Kita sedang memasuki ruang berpikir yang mengajak menangkap maksud dan makna dari eksistensi diri manusia.

Jean Paul Sartre mengatakan bahwa eksistensi (keberadaan diri) mendahului esensi (hakikat diri). Dalam cerpen “Langit di Kaki Mereka”, tokoh pria tua berjubah kelabu mengingatkan tokoh aku tentang eksistensi diri manusia di dunia ini. Pria tua itu mengingatkan tentang kebebasan diri manusia. Alex Lanur dalam pengantar buku Kata-Kata (2001) menuliskan: “Ia (Sartre) memahami kebebasan sebagai kesadaran yang menindak. Manusia sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah eksistensi itu mendahului esensi. Sebab, manusia selalu berhadapan dengan kemungkinan untuk mengatakan tidak.” Hanya kematianlah yang membuat manusia tidak lagi bisa berkata tidak. Namun, dalam cerpen itu, manusia-manusia hanya berjalan mengikuti sistem. Mereka tidak dapat menolak, membantah, atau mengatakan tidak. Manusia-manusia yang tidak memiliki eksistensi diri. Padahal manusia itu masih hidup dan belum tiada atau mati. “Kau menatap keluar jendela, dan yang kau lihat bukanlah hal yang biasanya ada di jalanan kota: pejalan kaki yang sibuk, kendaraan yang berlalu lalang, atau gedung-gedung menjulang. Yang kau lihat adalah manusia-manusia merangkak di tanah, mereka berjalanan dengan tangan mereka dan menjulurkan kaki ke udara. Wajah-wajah mereka pucat dan kosong, seolah mereka hanya cangkang dari diri mereka yang dulu.”

Dalam cerpen, berkali-kali yang disalahkan adalah sistem. Di era modern di mana sistem kerja begitu rumit dan padat membuat orang-orang berubah menjadi robot. Manusia hanya cangkang dan kehilangan isi. Mereka bergerak sesuai jam kerja dan kemudian pulang dengan kekosongan. Berulang hingga mereka mati. Tanpa mampu berkata tidak. Dalam buku Menggugat Modernisme (2012), Medhy Aginta Hidayat menuliskan: “Modernisme juga telah menyebabkan lahirnya pelbagai patologi: dehumanisasi, alienasi, deskriminasi, rasisme, pengangguran, jurang perbedaan antara kaya dan miskin, materialisme, konsumerisme, dua kali perang dunia, ancaman nuklir dan hegemoni budaya serta ekonomi.” Padahal seharusnya manusia mempunyai pilihan-pilihan untuk bertindak dan memaknai hidupnya.

Moehammad Abdoe menulis dalam cerpennya: “Sistem yang membuatmu berpikir bahwa ini adalah realitas yang seharusnya. Mereka yang di atas, yang kau lihat di langit terbalik, mereka adalah yang mengatur semuanya. Mereka membuat hukum, aturan, dan semua yang kita percayai. Tapi mereka tidak pernah memberi kita pilihan. Mereka hanya memberi kita ilusi bahwa kita bebas, sementara sebenarnya kita terus terjebak.” Kapitalisme yang bersekutu dengan penguasa adalah paket yang mengerikan yang mampu membuat manusia hidup tanpa kehidupan.

Moehammad Abdoe menambahkan lagi kengeringan yang harus dihadapi manusia yaitu militerisme: “Kau memeriksa ke luar dan melihat sosok-sosok dengan pakaian seragam yang berjalan di antara para perangkak. Mereka membawa tongkat panjang dan setiap kali tongkat itu menyentuh seseorang yang merangkak terlalu cepat, orang itu berhenti dan terdiam, seolah lupa bahwa mereka pernah bergerak. Kami adalah pengawas.” Modernisme, kapitalisme, dan militerisme membuat eksistensi diri manusia menjadi tiada sekalipun tanpa kematian. Manusia menjadi sering kesepian dan merasa kosong. Hidup menjadi sangat menyakitkan.

Hal yang lebih mengerikan adalah saat manusia merasa keadaan ini sudah sesuai yang seharusnya seperti yang ada dalam cerpen tersebut. Albert Camus juga pernah menulis hal yang sama dalam esai “Cinta akan Kehidupan”: “Kita tak lagi bisa memberang—bersembunyi di balik jam-jam yang kita habiskan di kantor atau dalam gedung (jam-jam yang kita protes dengan gaduh, tapi melindungi kita dari rasa sepi yang menyakitkan).” Sungguh sangat ironis karena manusia justru takut untuk meninggalkan sistem yang telanjur menjebak hingga mereka takut memulai hal di luar aturan yang sudah dijalankan. Manusia merasa bahagia ketika mereka terus menerus bekerja karena bingung aktivitas apalagi yang bisa dikerjakan jika tidak bekerja. Manusia menjelma mesin tanpa kehidupan sosial dan individual. Mereka bukan lagi manusia karena tidak memiliki eksistensi.

Di akhir cerpen Moehammad Abdoe ingin pembaca berkontemplasi dan berefleksi: “Kau mulai mengerti bahwa yang membuat manusia terjebak dalam lingkaran adalah ketakutan mereka untuk berpikir berbeda. Atau mungkin, karena selama ini, mereka terlalu nyaman berjalan mundur tanpa pernah mempertanyakan ke mana mereka sebenarnya menuju.” Sebagai pembaca, mungkinkah pilihan sikap kita selama ini sudah menunjukkan bahwa kita memiliki eksistensi? Karena tanpa eksistensi sejatinya kita tiada.

Cerpen kedua berjudul “Badriyah” gubahan Gunoto Saparie. Dimuat di Suara Merdeka tanggal 9 Maret 2025. Awalnya pada saat membaca, cerpen “Badriyah” ini tampak umum seperti layaknya cerpen khas surat kabar. Gunoto Saparie mengangkat tema keagamaan dengan latar tempat pesantren tentu sangat sesuai dibaca di minggu awal puasa. Gaya penceritaan seolah mengusung aliran realisme dan romantisme.

Dalam esai “Modernisme Sebagai Masalah: Kesusastraan Indonesia Sebagai Kasus” tulisan Sapardi Djoko Damonono dijabarkan: “Seperti halnya bahasa persuratkabaran, bahasa realisme berbicara mengenai kehidupan sehari-hari. Boleh dikatakan tidak ada perbedaan dengan kosakata dengan cara penggambarannya. Keduanya sangat dekat dengan lingkungan kebendaan dan jasmaniah kita serta secara langsung menghubungkan kita dengan kehidupan yang kita kenal dan kita hayati sehari-hari.” Persis seperti yang disampaikan Sapardi Djoko Damono, pembaca akan mudah memahami bahasa realis yang digunakan Gunoto Sapari. Namun, pembaca yang mau sabar dan jeli menangkap surealisme dalam “Badriyah”. Surealisme yang lekat dengan absurdisme.

Dalam penggambaran latar tempat, Gunoto Saparie seolah sedang menggambarkan pondok pesantren yang seperti surga: “Tlahab, sebuah desa kecil yang terletak di Pantai Utara Kendal,  selalu menawarkan kedamaian bagi siapa saja yang datang. Di musim hujan, sawah-sawahnya tampak hijau membentang luas. Ada sungai kecil yang mengalir di dekatnya dan selalu memantulkan cahaya lembut matahari. Di sana, di tengah heningnya alam, terdapat sebuah pesantren yang berdiri tegak, Pondok Pesantren Abdulhamid, yang menjadi rumah bagi para santri dari berbagai daerah, tempat mereka menimba ilmu agama.” Betapa sulitnya menemukan tempat sedemikian indah dan damai di bumi ini. Pondok Pesantren yang seperti surga ini tentunya merupakan impian semua orang yang menginginkan adanya tempat terbaik menekuni ilmu agama. Impian yang sulit dijangkau oleh realitas saat ini. Begitu pun dalam cerita. Kedamaian yang di bagian orientasi cerita digadang-gadang ternyata di bagian konflik cerita menuai persoalan. Persoalan yang dipicu oleh kehadiran seorang perempuan.

Di tempat yang digambarkan seperti surga, di dalamnya tentu ada seorang bidadari. Perempuan  yang seperti bidadari itu bernama Badriyah. Gunoto Saparie menggambarkan sosok Badriyah dengan sangat sempurna: “Badriyah, gadis muda yang penuh pesona, cantik, tinggi semampai, selalu hadir dalam setiap majelis ilmu. Keindahan parasnya tidak bisa disangkal, namun yang lebih menonjol adalah kecerdasannya dalam ilmu agama. Dia begitu fasih membaca kitab kuning tanpa harakat, bahkan bisa menghafal Nadhom Alfiyah yang panjang, lebih seribu bait. Badriyah adalah santriwati yang disegani, pandai berdebat dan selalu menjaga adab.” Belum cukup, Gunoto masih menambahkan penggambaran tokoh Badriyah melalui pengamatan tokoh lain yaitu Faiz: “Bagi Faiz, tidak ada yang lebih mengagumkan dari Badriyah –kesederhanaannya, kerendahan hatinya, keayuannya, dan tentu saja, kecerdasan dan kepintarannya yang tiada tara.”

Melalui kehadiran Badriyah, Gunoto Saparie membawa tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ke dalam peristiwa ganjil yang absurd. Ia menggali fakta-fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat kemudian mengolahnya dan selanjutnya menampilkan peristiwa-peristiwa tidak masuk akal, menyakitkan, dan tragis. Sebelum melihat cerpen Badriyah lebih jauh, kita perlu membaca tulisan Bakdi Soemanto yang berjudul “Absurdisme dalam Lakon-Lakon Indonesia”. Dalam tulisan itu Bakdi Soemanto menjelaskan tentang lakon-lakon Jean Cocteau sebelum ia membahas absurdisme lakon di Indonesia: “Lakon Cocteau mencoba mengeduk dan menggali pengalaman-pengalaman di balik yang biasa terjadi dalam hidup sehari-hari. Dari titik inilah Cocteau menamakan bahwa teaternya absurd. Dalam hal ini, istilah yang disebut dengan absurditas itu bukanlah hanya merupakan bagian dari satu peristiwa saja, tetapi bagaimana tokoh-tokoh dalam lakon itu memainkan peran dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan. Akan tetapi dengan cara seperti ini Cocteau merasa pasti bahwa ia menyajikan pentas yang “more truly than the truth”, yakni lebih benar dari kebenaran itu sendiri. Apa yang oleh Cocteau disebut absurd oleh Gauillaume Apollinaire disebut surealisme.”

Badriyah, perempuan bidadari itu, ia dicintai oleh dua orang pemuda yang digambarkan sebagai sosok yang sempurna pula. Faiz seorang santri muda bersuara merdu dan Syamsul seorang ustadz muda di pondok pesantren tersebut. Kedua lelaki yang yang kesalehannya tidak perlu dipertanyakan lagi karena dua-duanya adalah santri penghafal Al-Quran. Namun, Badriyah memilih menanggung rasa sakit dan malu ketimbang menerima salah satu dari dua laki-laki tersebut. Badriyah justru jatuh cinta pada Gus Arifin. “Namun, ternyata semua itu menjadi tak berarti ketika Badriyah justru memilih Gus Arifin, putra dari Kyai Abdul Karim, pimpinan Pondok Pesantren Abdulhamid itu. Gus Arifin yang dikenal bijak dan kharismatik, adalah pria yang sudah menikah dengan Zubaidah. Ia seringkali terlibat dalam kegiatan-kegiatan pesantren dan menjadi panutan bagi para santri. Namun, Badriyah merasa ada sesuatu yang berbeda pada Gus Arifin. Keberanian dan ketegasan Gus Arifin dalam memimpin pesantren membuatnya terpesona dan terpikat.”

Tuduhan dari masyarakat tentunya akan mudah saja diterima oleh Badriyah. Perempuan yang digambarkan seperti bidadari itu ternyata tidak bermoral karena mencintai laki-laki yang sudah beristri dan memiliki dua anak. Badriyah yang tidak memaksakan bahwa cinta itu harus diwujudkan dengan memiliki tetap mudah mendapat penghakiman. Namun, Albert Camus seorang filsuf eksistensialisme dan absurdisme menuliskan dalam esainya “Sisi yang salah dan Sisi yang Benar” yang bisa terbaca dalam buku Kota-Kota tanpa Masa Lalu (2019): “Terkadang seseorang bisa berprilaku secara (ber)moral, tapi tak penah menjadi moral (itu sendiri). Sudah terlalu lama bagi moralitas manakala orang yang bergairah kuat takluk kepada ketidakadilan pada momen ketika ia bicara tentang keadilan. Adakalanya manusia, bagiku, terlihat sebagai sebuah ketidakadilan berjalan: aku sedang membayangkan diri sendiri.” 

Gunoto Saparie tidak membuat kisah cinta problematik itu perlu mendapatkan pengesahan. Meskipun ia menuliskan bahwa tidak bisa dipungkiri bahwa Gus Arifin menyimpan ketertarikan pada muridnya itu, tetapi tidak perlu dibuktikan dengan pilihan poligami. Poligami yang kerap membawa rasa sakit terutama bagi kaum perempuan bukanlah menjadi satu-satunya pilihan. Gunoto Saparie memberikan tawaran rasa sakit lain yang harus ditanggung oleh tokoh-tokohnya. Kita menduga Gunoto Saparie akan setuju dengan Albert Camus meski mungkin belum membaca kalimat Camus: “Tak ada cinta akan kehidupan tanpa rasa berputus asa akan kehidupan.” Selanjutnya kita akan melihat tokoh-tokoh dalam cerpen yang berputus asa sekaligus kita akan membuktikan apakah keputusasaan membuat mereka mencintai kehidupan atau menyerah dengan kehidupan.

“Gus Arifin, meskipun sudah beristri dan berputra dua, diam-diam ternyata juga mulai tertarik pada Badriyah. Hubungan itu, meski hanya terjalin dalam tatapan dan kata-kata yang tak diucapkan, mulai meruncing.” Tatapan mata memang kadang bahaya. Mata kerap tak bisa diajak menyimpan rahasia. Begitu mudah mata menjadi cerminan hati. Kata yang tak terucap kadang lebih dalam maknanya daripada kata-kata yang muncul di permukaan. Ketika rasa yang berbicara, segala yang runyam kadang siap menjadi pilihan. “Badriyah mulai merasa nyaman dengan Gus Arifin, tetapi ia tahu bahwa cintanya tidak akan pernah diterima secara utuh. Rindunya rindu terlarang. Gus Arifin sudah memiliki keluarga, dan lelaki itu tak mungkin mengkhianati istrinya.” Pilihan Badriyah adalah pilihan yang menyimpan kegetiran. Tak hanya pahit yang akan ia telan. Ia sekaligus merasakan sakit, susah, dan tentu saja sengsara melihat laki-laki yang ia cintai bersama dengan istrinya. Badriyah tidak berhak marah. Ia hanya akan menikmati kesakitan yang ia pilih sendiri. Kesakitan yang memberinya secercah cahaya dan semburat tipis kebahagiaan. Kesakitan yang membuatnya merasa penuh dan utuh sebagai manusia yang boleh juga merasakan cinta. Perasaan yang sangat manusiawi. Namun, orang-orang berhak pula memiliki cara pandang yang berbeda dengan Badriyah. Orang-orang berhak melemparkannya ke dalam api yang panas dan ganas. Api yang disulut dengan kedengkian dan dikobarkan dengan fitnah yang terus berkembang tanpa peduli kebenaran.

Ummu Zubaidah memilih percaya pada gosip yang tersebar. Ia menolak percaya pada penjelasan Gus Arifin. “Gus Arifin, suaminya yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati, tiba-tiba berubah. keakraban mereka yang dulu selalu terasa hangat, kini penuh keraguan dan jarak.” Perasaan yang Zubaidah ciptakan sendiri karena percaya pada gosip murahan. Kepercayaan dalam rumah tangga yang ternyata hanya setipis tisu itu mudah dirobek oleh kata orang. Meskipun berkali-kali suaminya menjelaskan, Zubaidah memilih pergi dari rumah dan mengakhiri segala yang sudah dibangun dengan cinta. Zubaidah pulang ke rumah orang tuanya: “Di rumah orang tuanya, meskipun ia disambut dengan pelukan hangat dari ibunya, ada perasaan kosong yang tak bisa diisi. Rumah yang dulu terasa penuh dengan canda tawa, kini terasa sepi.” Perasaan sepi dan kosong yang tidak mungkin terhindarkan lagi, namun itulah pilihan  yang ia ambil karena merasa benar, merasa diperlakukan tidak adil, dan merasa kehilangan cinta.

Gunoto Saparie menyadari bahwa semua tokoh dalam cerita mengalami kisah tragis karena cinta. Ia menuliskan: “Cerita pun seperti air yang mengalir deras di sungai, tak bisa dihentikan. Setiap orang terjebak dalam arus yang tak bisa mereka kendalikan.” Sungai yang di awal cerita menggambarkan keindahan dan kedamaian, di akhir cerita ternyata arusnya menyeret dan menenggelamkan keindahan dan kedamaian yang didambakan oleh tokohnya. Mereka harus menerima bahwa cinta yang seharusnya manis ternyata berakhir tragis. Segala yang dimulai dengan harapan ternyata berakhir dengan kekecewaan. Namun, di akhir cerita Gunoto Saparie kembali menghadirkan usaha penerimaan manusia pada kehidupan yang berat dengan cara menjadi saleh dan mengingat Tuhan: “Di suatu malam Kamis yang hening, ketika Faiz kembali membaca shalawat di depan jamaah, suara gemercik air sungai terasa merdu. Ketenangan itu seperti menyelimuti mereka semua, seolah alam sendiri memberi pelajaran bahwa hidup ini, seperti Al- Barzanji dan Alfiyah, adalah soal mengalirkan kasih tanpa mengharap balasan.” Sebetulnya tidak ingin memasukkan kalimat dari Albert Camus dalam esai “Ironi” untuk mengakhiri pembahasan cerpen Badriyah ini, namun telalu menggoda jika tidak dituliskan, jadi diputuskan untuk dikutip saja: “Jika harapan akan kehidupan bisa dilahirkan kembali, Tuhan akan menjadi tak berdaya terhadap urusan manusia.”

Cerpen ketiga berjudul “Buronan Mertua” ditulis oleh Dody Widianto. Cerpen dimuat di Suara Merdeka tanggal 2 Maret 2025. Pilihan judul yang menggelitik. Cerpen ini juga berisi  situasi-situasi lucu dan tidak masuk akal yang harus dihadapi oleh tokohnya. Kekonyolan hidup yang sebetulnya tragis. Tokoh Ron menghadapi tragedi dalam rumah tangganya. Namun tragedi yang ia hadapi justru akhirnya berubah menjadi komedi. Pembaca bisa tersenyum sekaligus merasa ada belati yang menusuk ulu hati dalam waktu yang bersamaan.

Ron adalah seorang Youtuber. Pekerjaan sehari-hari tentunya membuat konten video. Dia selalu bekerja setiap hari. Tanpa waktu kerja yang pasti namun video harus jadi dan siap untuk  dipublikasi. Semua demi menarik jumlah pengikut di sosial media. Ia mendapatkan uang dari setiap kontennya. Namun, usaha yang dia lakukan dalam mencari nafkah adalah hal yang sia-sia di mata mertua. Ia dianggap pengangguran yang kerjanya hanya keluyuran. “Ia sudah punya lebih dari 90 ribu pengikut. Sebentar lagi, jika pengikutnya tembus 100.000 ia akan menerima silver play button. Makin banyaklah pundi-pundi rupiah yang nanti akan masuk ke rekeningnya. Namun, di mata ibu mertuanya, pekerjaannya yang sekarang seolah tak ada harganya.” Jelaslah bahwa Ron bukan menantu idaman. Ibu mertuanya bahkan tega menyuruh anaknya untuk bercerai dengan Ron. Tak hanya itu, ibu mertua Ron ingin agar anaknya menikah saja dengan laki-laki lain padahal mereka belum resmi bercerai.

“Coba dari dulu kamu mau sama si Fery itu Rhien. Kerja sudah enak jadi Kapolres. Nanti kamu tinggal ikut ngumpul sama ibu-ibu Bhayangkari. Pakai seragam merah muda yang keren. Tua jadi pensiunan. Enggak dasteran kayak gini di rumah.”

Di saat yang sama Ron sedang berjuang mati-matian menyurakan kebenaran melalui konten yang ia buat. Ia membuat video tentang perbandingan rumah penerima santunan kemiskinan dari pemerintah, ia mengkritik tiket wisata yang harganya tidak masuk akal, membongkar praktik pungli, dan segala kebobrokan yang terjadi di negeri ini. “Ron pernah hampir dilaporkan polisi atas unggahannya yang menyinggung pungli ini. Kontennya di Youtube dibanjiri ribuan komentar dan jam tayangnya bertambah. Ini membuat iklannya meningkat.” Keberanian yang dibayar dengan rupiah. Meskipun begitu, Ron dihadapkan dengan kehidupan penuh ancaman, kebencian, serta keinginan-keinginan orang untuk menghancurkan dirinya.

Ron dan Rhien bertahan dari segala hal yang ingin memisahkan keduanya. Mereka percaya kekuatan cinta yang tidak mudah dihancurkan begitu saja. Meski mertua atau omongan orang begitu mudah menghasut tidak mudah membuat Ron dan Rhien berpisah. Bahagialah hidup Ron.

Namun, Ron tidak bisa mudah membendung kebencian orang-orang yang tidak menyukai konten Youtubenya. Muncullah siasat fitnah dan penyerangan pada Rhien. Ron difitnah berselingkuh dengan dilengkapi foto-foto panas hasil rekayasa AI. Kepercayaan Rien menghilang begitu saja. Rumah tangga hancur berantakan. Belum cukup itu saja penderitaan yang harus ditanggung Ron. Secepat kilat Rhien menikah dengan Fery seperti harapan ibu mertuanya yang sangat materialistis.

Ron merasa hidupnya sia-sia. Sebegitu mudah segala yang dibangun dengan perjuangan dan air mata dihancurkan. “Satu pinta Ron, ia ingin selalu datang ke rumah ibu mertuanya sesempatnya demi melihat anaknya. Namun, atas campur tangan ibu mertua, tak semudah itu bagi Ron.” Hidup Ron tiba-tiba semrawut dalam waktu yang sekejap. Ia kehilangan semuanya. Semua orang yang ia sayangi. Penyesalan-penyesalan yang mudah menghampiri ketika segalanya pergi.

Ron merasa harus bercerita. Ia tidak bisa menanggung bebannya sendiri. Ia bertemu dengan seorang sahabatnya yang berprofesi sebagai penulis. Mereka memiliki kesamaan nasib yaitu ditinggalkan perempuan yang mereka cintai. Istri penulis itu telah meninggal. Mereka yang terjebak dalam kesedihan-kesedihan hidup bersatu dan saling menguatkan. Mereka memilih tidak terpuruk dalam penderitaan. Akhirnya mereka berkolaborasi membuat konten dan dalam waktu kurang dari satu tahun, akun Ron memiliki 5 juta pengikut. Hal ini membuat mereka banyak menerima endorse produk. Ron kaya raya. 

Kekayaan selalu menawarkan keindahan. Meski keindahan itu datang bersama kepura-puraan. Tiba-tiba saja banyak perempuan yang mengantre jadi istrinya. Banyak ibu yang ingin mendaftar jadi mertuanya. Hal konyol pun akhirnya datang juga. Mantan istrinya ingin rujuk kembali. Mantan ibu mertuanya menyesal dan ingin Ron kembali menjadi menantunya. Ia resmi menjadi buronan para ibu yang ingin mencari menantu. “Namun Ron sudah memutuskan punya pilihan sendiri dan yakin tak akan membuatnya sakit hati.”

Dody Widianto mengakhiri cerpennya dengan berita yang mengejutkan: “Yang aku dengar, Ron malah pacaran dengan si penulis itu. Dunia sedang tidak baik-baik saja bukan?” Sungguh akhir cerita yang ganjil. Ron menyerah dengan perempuan dan memilih bersama laki-laki. Kesakitan yang ia rasakan menuntunnya pada pilihan-pilihan hidup yang lain. Kebebasan memilih yang ia pilih membawanya pada kemungkinan-kemungkinan hidup yang berbeda.

Cerpen keempat adalah “Wiwitan Terakhir” karya Imam Khanafi. Dimuat di Suara Merdeka pada 23 Maret 2025.  Cerpen yang membahas budaya lokal yang biasa dilakukan masyarakat Jawa sebelum masa panen padi dilakukan. Wiwitan merupakan wujud rasa syukur petani untuk hasil panen yang melimpah. “Fi berdiri di pematang sawah, memandang matahari yang perlahan tenggelam di ufuk Barat. Angin semilir menggoyangkan padi yang sudah menguning, seolah berbisik kepadanya. Ia menarik napas panjang, mencium aroma tanah basah dan padi matang. “Hari ini kita akan menggelar wiwitan,” ujar Pak Marjo, seorang petani tua yang dianggap sesepuh di desanya.”   

Perkembangan zaman membuat tradisi sering terlupakan dan nilai-nilai budaya tidak lagi diperhatikan. Imam Khanafi mengangkat lagi kepercayaan-kepercayaan tradisional yang berkembang dalam masyarakat Jawa khususnya bagi kalangan petani Jawa. Ia juga mendekatkan pembaca pada alam yang terus menumbuhkan kehidupan. 

Imam Khanafi menghadirkan tokoh perempuan yang dekat dengan alam. Perempuan yang lahir dan tumbuh di tanah berlumpur dan pematang sawah, yang mengenal musim seperti ia mengenal tetangganya. Ia tahu kapan tetangga itu pulang dan kapan akan pergi. Ia memahami waktu tandur dan panen. Ia mengerti segala yang mengganggu dan mengancam keselamatan padi. Ia akrab dengan air dan matahari.

Perempuan yang dimanja keindahan dan kesuburan kini harus merasakan jiwa yang kosong dan sepi karena kematian seorang ayah. Perempuan ini hidup dalam kesedihan yang berlarut hingga sulit membedakan peristiwa nyata dan tidak nyata yang terjadi pada dirinya. Peristiwa ganjil yang dihadirkan Imam Khanafi memeperlihatkan batas kesadaran dan kesanggupan manusia dalam menerima kesedihan dan penderitaan jiwa.

“Fi Mengangguk, merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk pintu kenangan, mengingatkannya pada masa kecilnya yang sering ikut wiwitan bersama ayahnya. Tapi sekarang, ia hanya sendiri. Ayahnya sudah lama pergi.” Hidup manusia memang terus berjalan, namun rasa sakit karena kehilangan tidak mudah hilang. Meski harus ditutup dan dikaburkan dengan seribu banyak hal. Manusia tidak bisa membohongi diri di saat-saat tertentu selalu ada rasa kosong di lubang yang sulit ditambal sulam.

Dalam acara wiwitan tentu saja disajikan beraneka rupa sesaji selain doa-doa. Fi ikut membantu menyiapkan segala ubo rampe prosesinya. Dalam kelemahannya sebagai manusia karena ritual wiwitan adalah kenangan bersama ayah, ia tetap harus sanggup melawan dan menahan penderitaan jiwanya. Di tengah kesakitan dan kegetiran jiwa, peristiwa-peristiwa absurd sering muncul untuk menggugah kesadaran. Apakah manusia akan terlarut pada yang tidak nyata atau ia bisa kembali menghadapi dunia realitas dan kenyataan. Karena kesedihan menyeret dan meremukkan. Kekosongan menjadi sebuah kesia-siaan.  

“Fi membantu merangkai janur, tangannya sedikit gemetar. Entah kenapa, ia merasa ini lebih dari sekadar ritual. Ada sesuatu yang akan terjadi. Saat matahari semakin merendah, suara gamelan dari balai desa mulai terdengar samar-samar terbawa angin. Fi menoleh ke arah suara itu, hatinya bergetar oleh nostalgia. Dahulu, ia selalu berlari kecil di pematang bersama ayahnya, menunggu momen wiwitan dengan penuh antusiasme. Kini tanpa sosok ayah di sisinya, perasaan sepi menggelayut dalam dirinya.” Keceriaan tidak lagi ia rasakan. Yang hilang memang tidak bisa kembali. Yang ada hanya bayang-bayang yang terus memanipulasi rasa. Manusia yang kerap hanyut dalam perasaan sulit mendapatkan kesadaran. Padahal manusia memiliki eksistensi untuk membuat sebuah pilihan.

Melani Budianta menyarikan pemikiran filsuf eksistensialisme: “Jika sebelumnya agama atau norma-norma sosial budaya dalam masyarakat tradisional yang komunal menyediakan pemaknaan terhadap hidup dan memberikan tuntunan bagaimana menjalankan hidup, apa yang baik dan benar, eksistensialisme menghentakkan manusia untuk menyadari bahwa pemaknaan itu sepenuhnya pilihan-pilihan sebagai konsekuensi keberadaannya.

“Ketika doa selesai, nasi tumpeng mulai dipotong, lalu dibagikan kepada para petani. Fi menerima bagiannya dengan kedua tangan, namun sebelum sempat menyuapnya, ia melihat seorang lelaki tua di seberang pematang, berdiri dengan sorot mata lembut dan penuh arti. Jantungnya berdegup kencang. Lelaki itu mirip ayahnya. Sangat mirip. Tapi itu tidak mungkin. Fi berkedip dan sosok itu masih ada di sana, tersenyum samar. Ia ingin berteriak, ingin menghampiri, tapi tubuhnya terasa kaku. Saat ia akhirnya mengumpulkan keberanian untuk melangkah, angin bertiup lebih kencang membuat janur  yang ia rangkai tadi berterbangan ke udara.”

Peristiwa mistis dihadirkan oleh Imam Khanafi. Hal-hal yang sulit dijelakan oleh nalar mudah saja kita sebut sebagai kekuatan supranatural. Kondisi yang ganjil dialami oleh tokoh yang terpuruk dalam ingatan. Tokoh yang tidak berani membuat keputusan untuk tidak mengikuti acara yang membuatnya berlarut dalam rasa kehilangan. Tokoh yang memilih perasaan sia-sia turut hadir di tengah riuhnya acara. Rangkaian kejadian-kejadian aneh berulang dihadirkan Imam Khanafi. Fi mengalaminya diambang kesadaran nyata dan tidak nyata. Saat tidur dan bermimpi ataupun saat terjaga.

Fi akhirnya memiliki kesadaran bahwa ini bukan tentang dirinya. Semua hal ganjil yang ia lalui bisa ditarik pada kesimpulan yang logis. Dia memutuskan untuk tidak berlarut dan menyerah pada kesedihan. Ia memilih untuk kembali pada eksistensi dirinya sebagai perempuan yang ditakdirkan dekat dengan alam. Semua pertanda yang ia dapatkan memunculkan keputusan utuk melakukan perbaikan-perbaikan yang selama ini abai ia lakukan. Alam butuh dirawat dan harus terus dijaga dengan tindakan yang nyata.

“Fi, dengan langkah ragu, kembali ke tempat mereka melakukan wiwitan. Ia menunduk, menyentuhkan jemarinya ke tanah yang lembab. “Wis wayahe,” bisiknya. Bukan sebagai pertanyaan melainkan jawaban.”

Albert Camus menuliskan dalam buku Kota-Kota tanpa Masa Lalu: “Sebuah kematian yang tak menembus apa pun, dan kemudian, di sisi lain, dunia yang terang benderang. Apa bedanya jika kau mau menerima segalanya? Ini adalah tiga nasib, yang berbeda, tapi ada miripnya. Kematian untuk kita semua, tapi datangnya perseorangan. Tapi toh matahari masih menghangatkan tulang-tulang kita (yang masih hidup).” Sekali lagi manusia berhak memilih dan memutuskan bagaimana ia menghadapi segala yang terjadi di muka bumi ini. Menyerah dan kalah atau bangkit dan terus berjalan.

Imaniar Yordan Christy

Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *