Bagikan informasi ini


Penulis: Tahta Riat Fatimahma
Editor: Cici Ranita

SEMARANG− Alliance Francaise (AF) Semarang, bersama Dewan Kesenian Semarang
(Dekase) kembali menggelar Bincang Buku dan Penulis. Acara dilangsungkan di Kantor AF
Semarang, Jalan Dr. Wahidin No. 54, Kaliwiru, Candisari, Kota Semarang pada Rabu
(26/6/2024).
Acara ini merupakan agenda rutin kerja sama antara AF Semarang dan Dekase yang
bertujuan untuk mengenalkan kesenian dan literatur Prancis kepada masyarakat khususnya di
wilayah Semarang.
“Kegiatan bincang buku ini kan sudah dari tahun lalu ya, sebenarnya kita kerja sama dari
Dekase dari tahun lalu ada beberapa acara, pertama itu pesta musik tapi kemudian kita mulai
ada keinginan untuk melebarkan kegiatan terus, selain ke musik kita ke literatur atau hal lain
begitu,” ujar Tri Wiji Lestari (Joy) selaku penanggung jawab acara ketika diwawancarai selepas
acara.
Setelah sebelumnya mengangkat dua penulis terkenal asal Prancis, Milan Kundera dan Albert
Camus, kali ini AF Semarang dan Dekase memilih Jean-Paul Sartre yang juga seorang penulis
dan filsuf besar kelahiran Prancis sebagai tema bahasan. Lebih lanjut, Joy mengatakan bahwa
pemilihan tema bahasan kali ini adalah untuk merayakan dan mengenang 119 tahun kelahiran
Sartre yang jatuh tepat pada tanggal 21 Juni 1905.
Acara ini menghadirkan Donny Danardono, seorang Dosen FHK dan FITL Universitas Katolik
Soegijapranata, sebagai pemateri. Dalam sesi diskusinya, Donny menerangkan tentang latar belakang Sartre dan bagaimana filsuf besar itu melahirkan paham Eksistensialisme yang populer di Eropa.
“Bagi Sartre menerima dan menundukkan diri pada “yang lain” merupakan cara bereksistensi
yang tidak autentik. Jadi jangan menyetujui sesuatu karena itu yang patut menurut kebiasaan.
Itu yang ditolak Sartre. Itu persetujuan yang tidak autentik. Bagi Sartre bereksistensi yang
autentik adalah bereksistensi yang sesuai dengan kebutuhan subjektifnya, bukan demi sesuai
dengan kenyataan objektif di dalam atau di luar dirinya,” ujar Donny.
Perubahan pemikiran Sartre juga menjadi sorotan dalam diskusi ini. Menurut Donny, Sartre
dalam karya-karyanya yang lebih baru mulai mempertimbangkan pentingnya kehadiran “yang
lain” dalam pembentukan eksistensi seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx,
di mana manusia memerlukan materi dan harus bekerja dengan materi tersebut untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selain itu, Donny juga menyinggung tentang bagaimana perubahan pemikiran Sartre
mencakup pengakuan akan pentingnya cinta, kegembiraan, kemurahan hati, dan pengorbanan
dalam hubungan antar manusia yang autentik. Donny mengutip tulisan Alex Lanur yang
menunjukkan bahwa dalam karya-karya Sartre yang lebih baru, ia mulai berbicara tentang
pentingnya hubungan-hubungan positif ini sebagai cara eksistensi yang otentik dan tidak
terasing.
Para peserta diskusi tampak antusias dan terlibat aktif dalam sesi tanya jawab. Mereka
mengajukan berbagai pertanyaan yang menggali lebih dalam tentang pemikiran Sartre dan
relevansinya dalam konteks kehidupan modern.
“Maka yang penting itu sebenarnya autentik, yang autentik itu identik dengan jujur. Jadi kalau
menerima ya menerima, kalau memang bisa diterima. Kalau menolak ya, harus ditolak, bukan
karena hambatan budaya atau hambatan hukum tapi ya karena memang tidak bisa diterima.
Secara subjektif tidak bisa diterima. Itu yang dimaksud dengan tulisan autentikasi,” jelas
Donny lebih lanjut ketika ditanya oleh peserta diskusi manakah pemikiran Sartre yang harus
diterapkan.
Diskusi yang berlangsung selama satu setengah jam ini tidak hanya memberikan wawasan
mendalam tentang pemikiran Sartre, tetapi juga menginspirasi para peserta untuk
merefleksikan cara mereka bereksistensi dalam kehidupan sehari-hari. Donny Danardono
berhasil menyampaikan kompleksitas pemikiran Sartre dengan jelas, menggugah minat peserta
untuk lebih memahami filsafat eksistensialisme.
“Saya sangat mengapresiasi teman-teman yang sudah hadir, mungkin ada beberapa dosen,
guru, yang juga pegiat sastra mungkin yang pengin mendalami filsafat Sartre, filsafat
Eksistensialisme, dan harapannya semoga ke depannya eksistensi AF sendiri dan Dekase
sendiri bisa lebih dikenal kemudian tentang litelatur Prancis bisa dikenal lebih luas diketahui
orang lain begitu,” ungkap Joy di akhir wawancaranya.(*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *