Bagikan informasi ini

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam diskusi sastra yang digelar Maring Institut di Kafe Maringopi, Tlogosari Kulon Semarang pada Senin malam (31/7), penulis Okky Madasari mengungkapkan bahwa lewat karya sastra, seorang penulis dapat melakukan kritik dengan “aman.” Penuturan Okky tersebut sebagaimana tema diskusi yang mengangkat “Lewat Sastra Mengkritik Realitas Sosial.”

Diskusi ini dihadiri puluhan anak muda yang terutama berkecimpung dalam dunia sastra. Dalam diskusi ini juga menampilkan perform pembacaan puisi karya Okky oleh Imaniar Yordan Christy dari Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Selain itu, Imran Amirullah juga tampil dalam perform
musik akustik.

Okky yang juga sempat menjadi seorang jurnalis di sebuah media massa mengatakan, demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam masa sekarang masih jauh api dari panggang. Ini
sebagaimana masih banyaknya perlakuan represif oleh penguasa terhadap para pengkritiknya.

Okky menambahkan, kendati represifitas terhadap kebebasan berekspresi tidak berpola sama saat Orde Baru berkuasa, namun setidaknya di masa kini banyak instrumen yang mendukung hal sama. Seperti di antaranya UU ITE maupun pasal penistaan agama.

Okky sendiri mengatakan keprihatinannya atas censorship yang terjadi di media sosial. Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi media berekspresi bagi masyarakat. Akibatnya, masyarakat lebih banyak diliputi ketakutan dalam berekspresi di media sosial. Belum lagi, Okky menambahkan, maraknya buzzer yang beberapa di antaranya menggunakan akun anonim, menambah ruang ketakutan bagi masyarakat.

Lanjutnya, Okky mengutarakan, dirinya merasa percaya bahwa lewat karya sastra, seorang penulis dapat lebih leluasa mengekspresikan kegelisahan, kesedihan, atau kemarahannya atas realitas sosial. Ini terlebih sastra adalah karya yang berbasis fiksi. Menurutnya, karya sastra relatif tidak bisa disensor. Terlebih sejak 1998, tidak ada lagi lembaga atau badan yang memiliki kewenangan melakukan sensor buku.

“Saya sangat percaya, sastra dapat mempengaruhi kesadaran. Tidak tiba-tiba ada perubahan. Tapi pembaca dapat mempunyai cara pandang baru. Mereka yang selanjutnya akan jadi penggerak perubahan. Itu yang tidak bisa dilakukan lewat karya akademik atau media massa,” tutur Okky.

Editor: Ahmad Muhlisin

Sumber: Penulis Okky Madasari: Sastra Sebagai Alat Kritik yang “Aman” – Beta News

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *