Bagikan informasi ini

Semarang, 04 Mei 2026 – Dalam rangka merayakan ulang tahun Kota Semarang, Dewan Kesenian Semarang (DEKASE) berkolaborasi dengan seniman Mbah Prapto menggelar kegiatan pembuatan Warak Ngendog, ikon khas Kota Semarang, pada Sabtu, 02 Mei 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 21 peserta dari berbagai usia, mulai dari anak-anak sekolah dasar hingga mahasiswa dan masyarakat umum. Berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 13.00 WIB, para peserta diajak untuk membuat Warak Ngendog menggunakan bahan-bahan bekas seperti kardus dan styrofoam di bawah bimbingan langsung Mbah Prapto.

Dalam sesi pembuka, Mbah Prapto menyampaikan harapannya agar Warak Ngendog yang dibuat dari bahan yang semula kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi karya yang bernilai guna, bahkan memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat. 

“Memang kita sengaja sama Mas Adhitya yaitu menggunakan barang limbah. Jadi yang pertama tentunya kita ikut membantu program pemerintah dalam arti untuk mengatasi masalah limbah. Yang kedua, dengan ide-ide kreatif ini kita munculkan agar limbah yang tadinya tidak berguna menjadi berguna dan menjadi sebuah karya.” Ucap Mbah Prapto dalam sesi wawancara.

Lebih dari sekadar kegiatan kreatif, workshop ini juga menjadi sarana edukasi budaya. Melalui proses pembuatan Warak Ngendog, peserta diajak untuk memahami makna di balik ikon tersebut yang lekat dengan tradisi Dugderan, yakni perayaan masyarakat Semarang dalam menyambut bulan Ramadhan. Warak Ngendog sendiri merupakan makhluk mitologi hasil akulturasi budaya Tionghoa, Jawa, dan Arab, yang melambangkan keberagaman serta toleransi masyarakat. Di sisi lain, Warak juga menyimpan makna filosofis sebagai simbol pengendalian diri selama menjalankan ibadah puasa. 

Salah satu peserta, Kirani, mengungkapkan pemahamannya mengenai Warak Ngendog sebagai ikon khas Kota Semarang

“Kalau setahu aku, warak ngendog tuh waraknya sendiri salah satu kayak hewan mitologi di Semarang. Warak ngendog sendiri tuh artinya warak bertelur – ikonnya kota Semarang, biasa diadain di festival Dugderan sebelum bulan Ramadhan, sebelum puasa.”

Sementara itu, peserta lainnya, Chelsea, membagikan kesan positifnya terhadap kegiatan ini. 

“Bikin warak dari kertas adalah satu hal yang paling menarik, karena jujur aku bukan orang Semarang yang sebelumnya nggak tahu apa-apa tentang Warak Ngendog ini, terus ada info dari teman dan ikut. Ternyata di acara ini seru banget karena kenalan dengan banyak orang, banyak kalangan usia: ada yang dari anak-anak, ibu-ibu, dapat teman anak SMP, jadi bisa ngobrol, sharing, selain yang bikin warak ngendog.”

Melalui kegiatan ini, DEKASE berharap dapat terus mendorong pelestarian budaya lokal sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kreativitas dalam memanfaatkan limbah menjadi karya yang bernilai.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *