
Siang menjelang sore di Taman Budaya Raden Saleh. Lelaki berambut panjang dan bertopi datang. Dia adalah penulis puisi yang karyanya saya kagumi, karena selalu menyuarakan kritik soal. Hampir selalu tepatnya, karena setelah berbincang pada kesempatan itu, pria lulusan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Diponegoro itu mengaku pernah juga menulis puisi yang lembut.
Dia menyalami semua yang tengah duduk di depak rak buku kemudian duduk di bangku kayu. Meski saya mengenal puisi-puisinya yang “galak” tapi dia juga dikenal oleh semua orang sebagai sosok yang ramah.
Singkat cerita, kami kemudian berbincang tentang pengalamannya bersastra pada masa Orde Baru. Ya, dia menjadi mahasiswa saat kepemimpinan Soeharto tengah kuat-kuatnya dan sebaliknya, perlawanan terhadap rezim juga mulai menjalar.
Dia berkisah tentang keterlibatannya pada beberapa aksi menentang SDSB dan proyek Waduk Kedungombo, juga kampanye Golput. Dia juga mengungkapkan ingatannya saat membaca puisi di kampus ISI Yogyakarta serta PDS HB Jassin, Jakarta.
Dia juga bercerita pernah tidak jadi membaca puisi pada sebuah acara, karena sensor. “Puisi saya disensor aparat. Jika saya tetap membacakannya, maka acara akan dibubarkan,” ujarnya.
Perbincangan kami semakin dalam. Sesekali terhenti karena dia harus melinting rokok dari tembakau asal Temanggung yang disimpan dalam kotak plastik. Dia menghisapnya lewat pipa yang terbuat dari kayu senokeling. Sembari merokok, dia juga minum kopi yang dibawa dari rumah.
Dia kemudian bercerita pernah menerbitkan kumpulan puisi dengan cara memfotokopi. Setelah itu, kumpulan puisinya yang berupa buku terbit menjelang Orde Baru tumbang.
Kini, dia tengah menyiapkan kumpulan puisinya yang ketiga. Dia berencana menerbitkannya pada tahun depan, tepat saat usianya memasuki tahun ke-60. Dia tengah mengumpulkan dan memilah karya-karya yang ada.
Terima kasih atas perbincangannya ya, Mas. Semoga dilancarkan hajat tahun depan.
