Bagikan informasi ini

FILM karya mahasiswa Unika Soegijapranata Cornel Yobellakama Innocenci baru-baru ini ditayangkan di kampus tersebut. Film berjudul Confessio itu berhasil masuk tiga terbaik pada Mirabile Dictu International Catholic Film Festival 2026 di Italia.

Dari beberapa publikasi tentang Confessio, disebut bila film itu menyoroti tentang perilaku rasuah yang masih marak di negeri ini. Cornel mengungkapkan bila karya tersebut berawal dari, “Keresahan anak-anak daerah yang selalu menonton berita tentang kasus korupsi.”

Dia juga membawa pertanyaan, bagaimana bila koruptor (yang dalam film tersebut kebetulan penganut Katolik) menjalankan salah satu sakramen penyembuhan rohani yakni pengakuan dosa. Akankah imam gereja menerimanya. Apakah bila menjalankannya dia bakal mengalami metanoia.

Setelah menyaksikannya, ada satu tokoh yang menurut saya menjadi kunci pada plot yang dibangun. Dia adalah perempuan bernama Dea. Sosok tersebut diperankan oleh Winda Kusuma, pemeran asal Ambarawa yang dikenal pula aktif dalam dunia panggung.

Dea menjadi sosok yang “menegakkan” tema besar film itu, perlawanan terhadap korupsi. Meski hanya beberapa kali tampil di layar, kehadirannya bagaikan kunci yang membuka pintu kemungkinan adegan yang ditampilkan berikutnya atau kisah yang diusung kemudian.

Ada istilah bila skenario adalah tulang punggung film. Dengan demikian, cerita menjadi kekuatan utama. Itu yang tampak pada Confessio.

Penulis naskah Asa Jatmiko (yang juga menjadi pemeran pada film itu) mengajak penonton pada, yang disadari atau tidak, pertanyaan-pertanyaan. Beberapa bahkan seperti dibiarkan tak terjawab hingga film berdurasi sekitar 20 menit itu berakhir.

Menghadirkan sosok Dea dalam cerita, merupakan langkah jitu. Penulis naskah lain mungkin akan menyodorkan plot berbeda untuk menggulirkan alur serupa. Misalnya, koruptor yang bertobat, atau setidaknya bertekad untuk itu, setelah celaka saat berkendara atau sakit berpepanjangan.

Di Confessio, Asa memilih untuk menokohkan seorang perempuan yang melawan koruptor. Meski sutradara dan penulis cerita adalah laki-laki (bahkan mungkin sebagian besar kru juga), mereka tetap memberi posisi besar pada perempuan sebagai kunci, penentu cerita.

Cerita yang menarik itu kemudian dikemas dengan keberanian sutradara dalam menciptakan adegan. Keberanian itu sudah muncul sejak awal ketika adegan pertama ditampilkan dalam sebuah shot yang panjang.

Sebagaimana dimengerti, pengambilan beberapa adegan dalam sebuah shot saja membutuhkan energi besar. Karena itu, memilih teknik tersebut membutuhkan keberanian atau bahkan mungkin “kenekatan”. Terlebih menggunakannya pada bagian awal.

Sudah selayaknya Confessio yang diproduksi GsT Production mendapat apresiasi pada kancah festival film internasional. Untuk itu, selamat pada seluruh pendukungnya.

Dan selamat Hari Film Nasional juga untuk kita semua. Keberhasilan Confessio adalah sebuah kado istimewa untuk peringatan hari yang dilakukan setiap tanggal 30 Maret itu.(*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *