Bagikan informasi ini

Oleh Tegsa Teguh Satriyo

Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) tampak tak seperti biasanya. Minggu, 26 Oktober 2025 seolah menjadi hari yang sibuk baginya. Waktu belum genap pukul enam pagi. Tampak mobil bak terbuka keluar masuk, repot membawa berbagai properti. Selain itu, beberapa gerombol pemuda tampak tak kalah repot menenteng tas dan berbagai perlengkapan lainnya. Pemandangan yang sungguh menampakkan denyut napas kehidupan di Taman Budaya kebanggaan warga Semarang.

Kesibukan pagi itu terpusat di area gedung baru. Boleh dibilang, hari itu merupakan hari yang perlu dicatat sebagai hari bersejarah untuk dunia teater di Semarang. Bertempat di gedung baru TBRS, Festival Teater Semarang 2025 digelar. Ini merupakan festival teater pertama yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang dengan menggandeng Dewan Kesenian Semarang.

Enam kelompok teater yang turut meramaikan panggung finalis Festival Teater Semarang yakni Teater Sukma, Teater Taring, Lanang Wadon, Semarang Mari Berkarya, Teater Emka, dan Teater Gemati. Mereka datang dengan semangat yang beragam, dengan tafsir dan upaya masing-masing untuk meraba tema dan menyuguhkan kemasan garapan yang tentu dinanti-nantikan para penonton.

Tim penilai diambil dari luar Semarang. Mereka ialah Bambang Prihadi (Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta), Naomi Srikandi (Sutradara teater asal Yogyakarta) dan Rudiyanto (Teater Q – Tegal). Ketiganya memberi warna  tersendiri dalam atmosfer festival yang meski pertama kali digelar, terasa menjadi berenergi.

Gedung baru TBRS terasa hangat. Penonton datang dari berbagai latar belakang; seniman, mahasiswa, guru, siswa, warga yang sekadar penasaran: “Seperti apa sih festival teater Semarang itu?” Pertanyaan sederhana, tetapi justru menjadi denyut dari peristiwa ini. Sebab, memang itulah esensi dari festival: menciptakan ruang pertemuan, bukan hanya antara pemain dan penonton, tetapi juga antara gagasan dan harapan dalam berkesenian.

Penganugerahan pemenang digelar malam itu juga, berbagai kategori kejuaraan telah didapatkan para peserta. Kepuasan, kekecewaan, harapan, mewarnai berbagai ekspresi para penikmat yang saat itu turut meramaikan. Tentu peristiwa ini tak boleh begitu saja dilewatkan. Tak semestinya berpuas, kemudian begitu mudah melupakan. Mesti harus ada catatan-catatan kecil yang ditangkap dari kacamata sepanjang pelaksanaan. Sebagai contoh kecil, ada hal yang patut dicatat pula, yakni sempat terjadi gangguan teknis ketika salah satu kelompok sedang bermain. Timer terus berjalan, kurang lebih angka menunjukkan sekitar sepuluh menit pertunjukan disajikan. Namun, pet, tetiba panggung gelap. Peristiwa ini bukan bagian dari konsep kreatif dan tata artistik garapan, tetapi gangguan ligthing (teknis kelistrikan gedung) yang tentu cukup membuat seluruh elemen menjadi kurang nyaman. Butuh waktu sekitar satu jam untuk kembali memastikan kendala teratasi dengan aman, lalu pertunjukan kembali dimulai dengan penyaji yang mau tidak mau harus mengulang pementasan sejak awal. Kendala teknis itu justru menjadi catatan penting. Bahwa di balik sorot lampu dan tepuk tangan, selalu ada ruang evaluasi yang mesti diperhitungkan.

Sosialisasi program, perencanaan, dan waktu persiapan yang lebih longgar menjadi catatan salah satu juri. Dalam malam penganugerahan, Bambang Prihadi berpesan; “Festival teater ini ibarat panen raya. Untuk mencapai panen ini, mesti butuh persiapan panjang menyiapkan lahannya, menyiapkan benihnya, memupuk agar benih tumbuh subur dan maksimal, hingga akhirnya siap dan layak untuk panen raya.” Sebuah metafora indah untuk penyelenggara dan setiap mata yang malam itu turut meramaikan acara. Kalimat pengingat bahwa festival semestinya bukan peristiwa instan, bukan dadakan, melainkan hasil dari proses perjalanan panjang dan kerja kolektif.

Sebagai festival pertama, Festival Teater Semarang 2025 tergolong sukses. Bukan karena jumlah penontonnya yang memadati gedung pertunjukan, tetapi karena kehadirannya membuka ruang baru bagi pegiat teater Semarang untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam situasi ketika banyak kelompok teater sekolah dan kampus mulai jarang tampil, festival ini menjadi oase kecil yang menumbuhkan harapan.

Namun, apresiasi saja tak cukup. Ke depan, festival ini perlu terus diselenggarakan dengan skala yang lebih besar, dengan dukungan semua pihak. Semarang dengan sejarah panjang pluralitas budayanya, layak memiliki panggung yang hidup, tempat teater menjadi bahasa bersama untuk membaca napas zaman.

Festival telah usai, tapi gema langkah-langkah kecil itu masih terasa. Ini seperti denyut nadi yang bergetar di panggung TBRS, mengisyaratkan bahwa kesenian di kota ini masih ada, hanya butuh dirawat agar terus tumbuh dan berdaya.(*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *