
Baru-baru ini, Hae Theatre merayakan ulang tahunnya yang keenam. Meminjam salah satu gedung milik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, mereka menggelar serangkaian acara. Salah satunya yakni diskusi tentang teater di Semarang 20 tahun terakhir.
Sesuai pada diskusi tersebut, saya akan sedikit membagi ingatan tentang masa-masa awal selepas Tahun 2000. Pada tulisan ini, saya ingin menyoroti pertunjukan-pertunjukan Teater Waktu.
Sebagaimana diketahui, Teater Waktu merupakan salah satu kelompok yang telah menjadi legenda. Pemimpin sekaligus pendirinya adalah Agus Maladi Irianto (alm) yang juga dikenal sebagai akademisi setelah sempat menekuni dunia jurnalistik.
Ada dua pertunjukan Teater Waktu pada lima tahun awal Tahun 2000. Yang pertama yakni “Aljabar” yang dipentaskan di Laboratorium Seni dan Budaya Lengkongcilik pada 2003 dan yang kedua adalah “Malam Sepasang Lampion” yang dimainkan di Auditorium RRI Semarang pada 2005.
Keduanya sama-sama menggunakan konsep multimedia. Panggung menjadi ruang dialog antara aktor dengan media audio visual yang ditampilkan lewat bantuan peralatan.
Aljabar adalah naskah karya Zak Sorga yang ditulis pada 1987. Berbeda dengan naskah aslinya, pada pementasan Teater Waktu, bentuknya menjadi monolog. Aktornya adalah Daniel Hakiki.
Saya menonton pertunjukan itu dan sangat terkesan. Teks yang luar biasa berpadu dengan aktor dan penyutradaraan serta konsep pertunjukan yang amazing. Setidaknya, pertunjukan itu menunjukkan bila teater di Kota Semarang tidak ketinggalan dengan kota-kota lain.
Sementara pertunjukan “Malam Sepasang Lampion” berasal dari cerpen bertajuk sama milik Triyanto Triwikromo. Saya ikut bermain pada pertunjukan tersebut dan, tentu saja, ikut merasakan bagaimana gemblengan Pak Agus yang menjadi sutradara.
Dua pementasan itu menjadi pementasan terakhir Teater Waktu. Sebelumnya, teater tersebut memiliki jejak panjang sejak didirikan pada akhir 1980-an. Salah satu buktinya yakni foto yang mendampingi tulisan ini (saya dapatkan dari situs tempo.co). Isinya publikasi pementasan ketujuh Teater Waktu pada 1993.
Pada beberapa catatan yang saya baca, Teater Waktu selalu menyajikan pementasan yang “mengejutkan.” Begitu pula saya kira, dua pementasan pada awal 2000-an di atas.
Pertunjukan Teater Waktu bisa saja berhenti. Tapi perjalanan mereka tak pernah. Pementasan-pementasan mereka, setidaknya yang saya tonton atau alami, memberi catatan tersendiri bagi sejarah teater di Kota Semarang.
Kota Semarang 13, Januari 2025
