
Siang menjelang sore di Taman Budaya Raden Saleh. Lelaki berambut panjang dan bertopi datang. Dia adalah penulis puisi yang karyanya saya kagumi, karena selalu menyuarakan kritik soal. Hampir selalu tepatnya, karena setelah berbincang pada kesempatan itu, pria lulusan Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Diponegoro itu mengaku pernah juga menulis puisi yang lembut. Dia menyalami semua yang tengah duduk di depak rak buku kemudian duduk di bangku kayu. Meski saya mengenal puisi-puisinya yang “galak” tapi dia juga dikenal oleh semua orang sebagai sosok yang ramah. Singkat cerita, kami kemudian berbincang tentang pengalamannya bersastra pada masa Orde Baru. Ya, dia […]

