Bagikan informasi ini

Saat bertemu di Kota Semarang baru-baru ini, sembari menunggu Aksi Kamisan dimulai, saya diberi buku oleh penyair yang kini tinggal di Kudus, Asa Jatmiko. Buku tersebut berjudul Mencari Presiden Antikorupsi, Puisi Menolak Korupsi #9.

Ya, buku itu digagas oleh Gerakan Puisi Menolak Korupsi yang tahun lalu memasuki usia kesepuluh. Buku tersebut memang diterbitkan pada 2023 dengan isian 258 puisi dari 153 penyair.

Setelah membacanya, ada perasaan lega juga khawatir. Senang tapi cemas.

Yang membuat saya senang atau lega adalah keterlibatan beberapa penyair di Kota Semarang. Jika tak salah hitung, ada tujuh nama yang karya-karyanya dimuat di situ. Mereka termasuk dalam 53 penyair Jawa Tengah yang puisi-puisinya dicetak bersama puluhan karya yang lain.

Saya lega karena itu artinya dunia sastra di Kota Semarang masih berputar. Para penulis masih produktif dan karya-karyanya diterima masyarakat.

Sementara yang membuat saya senang adalah kesatuan visi pada cita-cita antikorupsi. Saya mengenal Gerakan Puisi Menolak Korupsi tersebut dari Mas (Sosiawan) Leak. Setahu saya, dia yang hingga sekarang terus bergerak meyebarkan virus itu dan “meracuni” banyak penyair. Dan sekali lagi, saya senang bila beberapa penyair di Kota Semarang telah terinfeksi.

Tentu saja saya akan lebih senang bila semakin banyak yang terkena.

Namun, saya juga khawatir karena belum ada nama-nama baru dari Kota Semarang yang muncul. Memang satu buku tidak bisa menggambarkan keseluruhan dinamika kesusastraan di Kota Semarang, tapi setidaknya bisa jadi cerminan.

Saya juga cemas. Karena bila Gerakan Puisi Menolak Korupsi masih terus bergulir, itu menandakan negeri ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Itu artinya, korupsi masih ada (dan sangat mungkin makin merajalela).

Saya sengaja menulis di sini tepat pada pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden. Saya coba menyelesaikan tulisan ini saat hasil hitung cepat beberapa lembaga survei sudah mencapai sekitar 60 persen. Konon itu artinya sudah mencapai titik stabil dimana pemenang (versi hitung cepat) sudah terlihat.

Dengan ini, saya berharap calon yang memenangi pemilihan kali ini bertindak lebih tegas (karena kata memberantas sepertinya khayal) pada kejahatan rasuah. Dengan begitu, tak perlu lagi mencari presiden yang antikorupsi.

Kota Semarang, 14 Februari 2024

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *