Bagikan informasi ini

Penulis: Sri Hartanto

Editor: Khofyfah Ayunda Putri

SEMARANG – Kiblat dunia perfilman saat ini, harus diakui, masih ke Hollywood di Amerika Serikat. Meski begitu, bukan berarti film-film dari negara lain tak kalah apik. Setidaknya hal itu terlihat pada tiga film pendek dari Prancis yang diputar Sabtu (20/7) lalu di Sekretariat AF.

Ketiganya yakni Nous N’Irons Plus En Haut, Caillou, dan Cataracte. Ketiga film tersebut diproduksi 2020-an. Dua judul yang pertama berdurasi 20-an menit, sedangkan yang ketiga berdurasi belasan menit.

Pemantik diskusi seusai penayangan film sore kemarin, Ardiyansyah Harjunantio mengungkapkan, untuk memahami ketiga film itu, harus menyadari bahwa ada “kebiasaan” yang beda.

“Kebiasaan kita dan kebiasaan mereka tak sama. Cara mengambil gambar yang estetik juga beda” ujarnya.

Dia lantas menegaskan, ketiga film pendek itu lebih dekat dengan aliran surealis. Pada aliran itu, penikmat atau dalam hal ini penonton film diberi kebebasan untuk menerjemahkan makna. Artinya pemahaman masing-masing penonton pada film tersebut bisa jadi berbeda.

“Bahkan memang diharapkan berbeda,” tambahnya.

Ardiansyah lantas coba membandingkannya dengan film-film Hollywood. Menurutnya, Hollywood lebih reaktif.

Pada film ketiga, menurut Ardiansyah membuktikan bahwa film Prancis menampilkan relasi sosial secara gamblang dibandingkan dengan film Hollywood.

Salah satu peserta dalam diskusi turut menanggapi terkait salah satu film yang diputar. Menurutnya, film kedua yang berjudul Caillou sangat menarik perhatiannya. Hal ini dikarenakan film tersebut seolah-olah terhubung dengan dirinya, yaitu seorang anak laki-laki baru saja kehilangan ayahnya, namun tidak merasakan kesedihan sama sekali.

Hal tersebut ditanggapi oleh peserta lain yang mengungkapkan bahwa kemungkinan laki-laki tersebut bingung dengan dirinya sendiri sehingga tidak mampu mengungkapkan kesedihan yang dialaminya.

Berdasarkan diskusi yang berjalan, Ardiyansyah mengungkapkan bahwa dalam dunia film Prancis, mereka memiliki gaya seni mereka sendiri. Meski pasarnya masih kalah dibanding Hollywood, film Prancis tetap ada dan seniman film di sana terus berkarya.

Kegiatan bertajuk Soirée Cinéma & Discussion Des Courts Métrages kemarin adalah yang kali kedua digelar. Acara tersebut diinisiasi oleh Alliance Francaise (AF) Semarang bersama Dewan Kesenian Semarang (Dekase).(*)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *