
Penghormatan untuk Mas Ton, Maestro Teater Lingkar
Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Dewan Kesenian Semarang (DEKASE) menyelenggarakan acara bertajuk “Doa dan Rindu yang Tak Usai”, Rabu, 9 Juli 2025. Acara berlangsung khidmat sekaligus meriah di Rumah Po Han, Jalan Kepodang, Kota Lama Semarang, sejak pukul 07.00 hingga 13.00 WIB.
Acara ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap Suhartono Padmo Soemarto, atau akrab disapa Mas Ton, tokoh sentral Teater Lingkar Semarang, yang telah berpulang. Dikenal sebagai seniman teater, Mas Ton tidak hanya menghidupkan teater rakyat, tetapi juga membentuk watak dan jiwa para pelaku seni melalui proses berkesenian yang konsisten dan bersahaja selama lebih dari empat dekade.
Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama: Eko Tunas (seniman, penulis naskah, dan sahabat dekat Mas Ton), Nasrun M. Yunus (Seniman, pegiat teater), serta Sindhunata Gesit Widiharto, dalang muda, sutradara, sekaligus putra bungsu Mas Ton.

Dalam sesi sambutan, Andy Rahmadi, S.Kom., selaku Kasubag Umum Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, membuka acara dan menegaskan pentingnya mengenang sosok Mas Ton sebagai pelaku budaya. “Teater Lingkar telah memberi kontribusi besar dalam menjaga denyut kesenian di kota ini. Kita semua kehilangan sosok seniman yang konsisten berkesenian seperti Mas Ton,” ucapnya.
Dalam sesi reflektifnya, Sindhu Gesit menyampaikan kisah menyentuh yang membuat hadirin terdiam. “Saya tidak menyangka, saat Teater Lingkar ulang tahun ke-45, Bapak (Mas Ton) memberikan nasi potongan tumpeng itu kepada saya. Ternyata itu seperti pralambang, bahwa saya harus meneruskan tongkat estafet beliau di jalur kesenian.”
Sementara Nasrun M. Yunus, yang akrab disapa Bang Ayun, menyampaikan materi bertema “Guru Itu Bernama Mas Ton Lingkar”. Ia menyoroti pentingnya dokumentasi atas sejarah teater-teater kampung di Semarang, dan menjadikan Mas Ton sebagai teladan perjuangan tanpa pamrih. “Dengan begitu nanti kita jadi tahu, bagaimana perjuangan Mas Ton dan bagaimana Teater Lingkar itu,” ujarnya penuh semangat.

Seniman kawakan Eko Tunas menyampaikan kisah awal pertemuannya dengan Mas Ton yang unik dan penuh dinamika. “Saya pernah ‘digeruduk’ oleh Mas Ton dan rombongannya, gara-gara tulisan saya di koran. Sempat ada ketegangan kala itu. Namun, dari situlah keakraban kami bermula. Setelah itu kami semakin dekat. Mas Ton pun meminta saya untuk menulis lakon, kemudian dipentaskan Teater Lingkar.
Tak hanya berteater, Mas Ton juga getol nguri-uri wayang kulit. Sedikitnya, lebih dari 300 kali pagelaran wayang kulit telah diselenggarakan tiap malam Jumat Kliwon. Meski sayang, sebelum Mas Ton berpulang, terdengar kabar bahwa kegiatan tersebut untuk sementara waktu telah dihentikan. “Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwonan sayangnya untuk sementara waktu ini dihentikan oleh ‘penggede-penggede’,” tambah Sindhu dengan nada kecewa.
Selain sesi refleksi, acara juga diramaikan dengan penampilan seni yang menggugah. Penampil yang turut serta: Namex Irfan (musik eksperimental), Munawwir (kidung doa penuh spiritualitas), Ucik Fuadhiyah (membacakan geguritan yang menyentuh), serta Salma Ibrahim (membawakan monolog emosional).
Acara ini dihadiri oleh sekitar seratus peserta dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga almarhum Mas Ton, pegiat Teater Lingkar, seniman lintas generasi, guru, jurnalis, hingga penggemar teater. Suasana haru dan semangat menyatu dalam ruang yang sederhana namun penuh makna.
Acara “Doa dan Rindu yang Tak Usai” bukan hanya menjadi ruang kenangan bagi sosok Mas Ton, tetapi juga menjadi panggung harapan agar semangatnya tetap hidup dalam karya generasi selanjutnya. Mas Ton telah berpulang, namun jejak langkahnya dalam dunia teater dan budaya Semarang tetap membekas, membentuk tradisi yang layak dirawat bersama.

Semoga semangat Mas Ton terus menyala dalam jiwa-jiwa muda yang menapaki jalan sunyi kesenian dengan dedikasi, kejujuran, dan cinta pada budaya.
kampung bet kampungbet kampungbet