
Baru-baru ini, Dapur Pertunjukan Meramu menggelar aksi bertajuk Degustasi dalam 26 jam di Taman Budaya Raden Saleh. Beberapa seniman hadir mendukung kegiatan mereka. Dan para pelaku seni dari generasi yang berbeda itu kemudian terlibat dalam perbincangan berbagai topik.
Salah satu perbincangan yang menarik bagi saya yakni tentang kedekatan teater dan wartawan di Kota Semarang. Perbincangan dibuka oleh Bang Ayun, sapaan akrab Nasrun M Yunus, yang mengungkapkan para pendiri Teater Waktu. Pria yang baru saja menyutradarai pertunjukan Teding Teater itu menyebut beberapa nama sebagai pendiri Teater Waktu yakni Agus Maladi Irianto, Agoes Dhewa, Prie GS, dan Handry TM.
Doa terbaik untuk keempatnya yang kini telah wafat. Tanpa menyebut angka tahun, Bang Ayun mengungkap bila mereka kebetulan saat itu bekerja sebagai wartawan. Setelah pementasan perdana di sebuah klub malam, Teater Waktu kemudian menjadi salah satu tonggak perkembangan teater, terutama di Kota Semarang selama beberapa dekade.
Hubungan teater dan wartawan ini kemudian yang menarik. Hingga sekarang, ada beberapa aktivis teater kemudian memilih jurnalis sebagai profesi. Dan setelah menjalani pekerjaaan itu, mereka juga tetap berteater atau setidaknya peduli terhadap dunia panggung tersebut.
Menelusuri dokumen yang dikumpulkan Odi Shalahuddin dan dikumpulkan di seputarteater.wordpress.com, keterkaitan antara wartawan dan teater di Kota Semarang ternyata sudah muncul sejak puluhan tahun lalu.
Pada 1955 misalnya, tercatat pertunjukan oleh para wartawan Semarang yang berjudul “Rumah”. Pementasan tersebut bahkan disebut sebagai, “Suatu kejadian yang unik dan orisinil serta barangkali baru sekali ini terjadi.”
Pada dokumen dari media Aneka tersebut, pementasan dikatakan berlangsung pada 27 dan 28 November. “.. benar-benar sutu pertunjukan sandiwara yang diselenggarakan dan dimainkan oleh para wartawan sendiri. Jadi boleh dikata 100% atas usaha para wartawan.”
Pada laporan itu, disebut pula para pemainnya, antara lain Nu Wulf dari “De Locomotief” sebagai sebagai Ny. Muljadi, Sulaiman dari “Kuang Po” sebagai Sjaffruddin, Sunardji, dari Daulat Rakyat sebagai Murnijati, Ady Sukirno, dari “Sin Min” sebagai pelayan Amat, serta Wahjoedi dari Suara Merdeka yang selain menjadi regisseur (sutradara) juga ikut main sebagai Djamal.
Kembali ke perbincangan di TBRS. Daniel Hakiki menambahkan bila eratnya hubungan antara kelompok teater dan wartawan di Kota Semarang sempat membuat “iri” pelaku teater di daerah lain. Itu tak lepas dari banyaknya liputan di media tentang teater Semarang. Kemudian muncul anggapan bila teater Semarang hanya besar di media tapi tidak dalam hal kualitas.
Jika merunut sejarah, tentu sekarang bisa dimaklumi mengapa begitu erat hubungan media dengan teater di Kota Semarang. Mungkin, latar belakang itu berbeda dengan sejarah perjalanan teater di daerah lain.
Soal kualitas? Ah, ya begitulah..
Januari 2026
Foto: Properti Dapur Pertunjukan Meramu pada Degustasi dalam 26 Jam di TBRS yang dibuat Widodo
