Bagikan informasi ini

Pada suatu masa yang tidak terang, sastra kadang hanya menjadi pengetuk pintu (penguasa) tanpa sahutan walau tidak mustahil sastra sebagai tamu yang bicara di hadapan tuan rumah, yang akibatnya adalah pengabaian atau kejengkelan. Triliunan kritik yang ditujukan pada penguasa dapat kita temukan dalam lembaran sastra. Belum bosan, Rusmin Sopian ikut menyuarakan tanda seru untuk memberi peringatan pada “mereka” yang sering amnesia ketika dimanja jabatan dan takhta.

Rusmin Sopian adalah seorang penulis yang tinggal di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan. Ia menulis “Buk Geriul” dan dimuat di Suara Merdeka pada Minggu, 11 Mei 2025. Konon cerpen yang ia tulis ditujukan untuk seseorang yang beralamat di Solo. Ia memilih Suara Merdeka sebagai wahana agar seruannya bisa sampai pada pintu tuan rumah yang dituju. Meski demikian, kita juga boleh ikut membaca sambil menikmati secangkir kopi tanpa gula.

Pembaca diharapkan tidak berlarut penasaran dengan judul. Penulis tidak ingin pembaca repot mencari arti kata Buk Geriul dalam kamus Toboali-Bangka atau Melayu-Bangka karena memang kata itu tidak ada. Rusmin membuka cerpennya dengan penjelasan “Buk Geriul adalah julukan khas di kampung kami kepada seseorang yang tidak konsisten. Sebuah julukan berkonotasi buruk dari warga kampung kami. Julukan bernada hinaan itu diberikan kepada orang atau warga kampung kami yang di mulut berkata lain, bertindak lain pula.” Dalam kata lain kita bisa menyimpulkan tiga kalimat panjang itu dalam satu kata: munafik.       

Kita tinggalkan sejenak cerpen dan mengingat kata-kata Mochtar Lubis dalam Manusia Indonesia. Mochtar Lubis berujar: “Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah hipokritis alias munafik. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia.” Pembaca bisa tersinggung namun malu untuk marah karena diam-diam mengakui bahwa pernyataan itu benar adanya. “Sistem feodal kita di masa lampau yang begitu menekan rakyat dan menindas segala inisiatif rakyat, adalah sebuah sumber hipokrisi yang dahsyat ini.”

Salah satu akibat kemunafikan manusia Indonesia yang tidak berani bersikap apa adanya adalah hingga saat ini kita masih dapat menjumpai sikap ABS (Asal Bapak Senang) terutama di lingkungan birokrasi. Mochtar Lubis mengingatkan: “Sampai hari ini, saat ini, dan entah berapa lama lagi, sikap ini masih berlaku dalam diri manusia Indonesia. Yang berkuasa senang di-ABS-kan oleh yang diperintahnya dan yang diperintah senang meng-ABS-kan atasannya.” Sikap munafik juga membuat manusia Indonesia sering berpura-pura menjadi manusia yang menjunjung tinggi moralitas, namun di belakang melakukan praktik yang mengkhianati moral, nilai, dan norma. Tentu saja, kita harus berusaha keluar dari steriotipe manusia Indonesia yang munafik jika kita tidak ingin terus berada dalam pusaran ketersesatan dan pegkhianatan intelektual.

Cerpen Rusmin menguatkan bahwa pernyataan Mochtar Lubis masih relevan hingga kini. Sayangnya Rusmin terlalu boros kata untuk menjelaskan julukan Buk Geriul. Akibatnya, kalimat yang digunakan ruwet: “Entah kapan persisnya, julukan Buk Geriul itu disematkan kepada warga kampung kami yang berprilaku tidak konsisten itu. Purnama tidak menjelaskan. Demikian pula dengan rembulan malam. Apalagi semesta raya yang terlalu sibuk dengan kehidupan.” Pembaca patut mempertanyakan pemahaman astronomi penulis dalam pengungkapan purnama dan rembulan malam. Kecuali Rusmin memang terilhami lagu Evie Tamala ketika menulis kalimat ini.

Tokoh yang diajukan Rusmin bernama “Kewi” atau di beberapa bagian ia menyebut tokohnya dengan “Pak Kewi”. Tawaran berbeda ketimbang ikut memakai julukan yang kerap beredar. Pak Kewi adalah seorang kepala desa yang awalnya sangat dicintai oleh masyarakat. Program kerjanya dinilai sesuai dengan harapan rakyat. Ia digadang-gadang sebagai “satrio piningit” yang muncul saat kondisi sedang kacau dan kehidupan masyarakat terpuruk.

Rusmin menceritakan bahwa kepala desa yang sebelumnya tidak bisa menjaga amanah rakyat: “Pak Kades sibuk dengan proyek pencitraannya. Menebar pesona ke sana ke mari. Sementara kondisi kampung kami kocar kacir. Infrastruktur jalan rusak. Bangunan sekolah banyak yang tidak layak untuk rumah pengetahuan bagi pewaris masa depan kampung kami. Dan sederet masalah lainnya yang menurut warga kampung kami tidak sesuai visi misi saat Pak Kades berkampanye dulu.” Tentu saja, pembaca bisa memahami bahwa kemunculan tokoh kepala desa baru yang membawa angin segar akan mudah diterima dan dipercaya.

Pak Kewi yang digambarkan Rusmin adalah tokoh pemimpin yang rela blusukan. Bahkan ke tempat yang kotor dan bau sekalipun. “Baru kali ini, ada pemimpin kampung kita yang masuk dalam WC umum”. Pemimpin seperti ini memang mudah panen simpati. Agak usil, Rusmin juga menulis: “Dia orang pertama di kampung kita ini yang meraih gelar sarjana.” Masyarakat tentu bahagia memiliki pemimpin kampung yang jelas mumpuni karena sudah lulus sarjana.

Pembaca cerpen menduga bahwa penulis memang rajin menonton berita atau membaca koran. Pembaca seperti pernah mengenali kata-kata yang dilontarkan tokoh dalam cerpen: “Apakah pantas, saya yang bertubuh kurus kerempeng begini jadi pemimpin di kampung kita ini?” elak Kewi sambil tertawa.”

Puncak masalah yang terjadi adalah Pak Kewi ingin memperpanjang masa kepemimpinan kepala desa hingga seumur hidup. Pada bagian klimaks cerita inilah, ciri-ciri hipokritis atau munafik manusia Indonesia terlihat jelas. Praktik ABS (Asal Bapak Senang) juga sangat tampak dalam cerita. “Loyalis Kewi melakukan gerakan pencanangan Kades seumur hidup”. Segala manuver politik yang dilakukan oleh para loyalis ini tentu sangat menciderai hati nurani rakyat yang masih menjunjung tinggi konstitusi.

Lebih berani dan tidak takut dijewer, Rusmin menuliskan, “Penolakan warga terhadap gagasan perpanjangan masa kepemimpinanya sampai ke telinga. Membuat Kewi gusar. Kembali, lewat orang-orang kepercayaannya dia melakukan aksi lobi ke sana kemari. Menemui tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh di kampung kami. Intinya meminta dukungan untuk keberlanjutan kepemimpinannya. Tentunya dengan senjata kompensasi dan iming-iming harta dan takhta sebagai penggoda.” Julukan Buk Geriul harus diterima Kewi karena di depan rakyat ia selalu membantah sementara di belakang punggung rakyat, taktik dan siasat terus dilakukan.

Yang mengkritik penguasa melalui sastra berhak berbisik lirih atau lantang bersuara. Yang dikritik boleh jengkel atau memilih abai saja jika terlalu sulit untuk insaf. Kita bisa sepakat dengan Seno Gumira Adjidarma: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.” Tanpa ada yang berani bersuara tentang kebenaran maka langgenglah tirani dan angkara murka.

Imaniar Yordan Christy

Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang

kampung bet kampungbet kampungbet
Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *