Bagikan informasi ini

Sastra klasik yang berupa folklor seperti legenda, mitos, epik, dan cerita rakyat dapat direkonstruksi atau didekonstruksi menjadi sebuah ide cerita dalam penulisan cerita pendek. Cerpen koran yang identik dengan isu kontemporer tentu melihat hal ini sebagai sebuah inovasi yang menarik. Salah satu cerpen hasil rekonstruksi naratif dari folklor dapat kita baca pada koran Suara Merdeka yang terbit pada Minggu, 6 April 2025. Cerpen berjudul “Ular Edor” karya Kartika Catur Pelita ini mengangkat folklor masyarakat Karimunjawa.

James Danandjaya dalam bukunya yang berjudul Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain (1991) menuliskan: “Folklor adalah bentuk kebudayaan kolektif dari masyarakat yang memiliki ciri pengenal yang sama seperti: warna kulit, rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang sama.” Namun, menurut Danandjaya yang lebih penting adalah bahwa “mereka memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun temurun sedikitnya dua generasi.”

Dalam Buku Ajar Mata Kuliah Folklor yang disusun oleh Lira Hayu dan Samsiarni (2018) dijelaskan bahwa “Folklor merupakan khazanah sastra lama. Sastra Folklor ini berkembang setelah William John Thoms, seorang ahli kebudayaan antik dari Inggris mengumumkan artikelnya dalam majalah Athenaeum. […] Dalam majalah itu Thoms menciptakan istilah folklor untuk sopan santun Inggris, takhayul, balada, dan tentang masa lampau.”

Ketika membaca judul “Ular Edor” tanpa membaca isinya, ingatan pembaca mudah saja tertuju pada makhluk mitologi yang dipercaya oleh Masyarakat Karimunjawa secara turun temurun yaitu sebagai sosok penguasa. Sebetulnya ular ini merupakan jenis ular tanah yang sangat berbisa. Namun, keberadaannya bagi Masyarakat Karimunjawa mendapatkan tambahan pemaknaan. Ia dimitoskan oleh masyarakat sebagai penguasa ghaib.

Ketika mulai membaca isinya, pembaca seolah diajak berlayar ke masa lampau, ke masa Jawa pra-Islam di daerah Pantai Utara Jawa. Pembaca merasa ikut terombang-ambing di perahu yang sama yang membawa Amir Hasan berjuang mengarungi ganasnya ombak demi menjalankan misi syiar agama Islam ke wilayah Karimunjawa sesuai mandat dari ayahnya yaitu Kanjeng Sunan Muria dan restu dari guru sekaligus pamannya yaitu Sunan Kudus.

Sambil membaca cerpen, pembaca mencoba menelisik sejarah kedatangan Agama Islam di Jawa yang termaktub dalam buku Etika Jawa (1984) yang disusun oleh Franz Magnis Suseno: “Pada tahun 1414 raja dari Kerajaan Malaka yang didirikan di Pantai Barat Malaya dalam abad XIV masuk Agama Islam. Kesultanan Malaka menjadi pusat penyebaran Agama Islam sampai direbut Portugis pada tahun 1511. Pedagang Islam dari Arab dan Gujarat, juga orang-orang Jawa yang berkedudukan di Malaka, membawa agama Islam ke kota-kota pelabuhan pantai utara pulau Jawa. Makam muslim pertama di Jawa berasal dari tahun 1419. Pada saat yang sama, kekuasaan Majapahit semakin merosot. penguasa-penguasa kota pesisir Utara seperti Cirebon, Demak, Tuban, Jepara, Gresik, dan kemudian Madiun di pedalaman memeluk agama Islam.”

Berdasarkan data dalam rangkuman sejarah tersebut pembaca bisa membayangkan latar waktu dalam cerpen yang berkisar di tahun 1419. Di tahun tersebut kondisi pulau Karimunjawa tentu jauh berbeda dengan saat ini. Kartika Catur Pelita menggambarkan Pulau Karimunjawa di masa itu dan gambaran kepercayaan masyarakatnya: “Perahu mendarat pada sebuah pulau yang dikelilingi hutan belantara. […] setiap hari, kalian syiar, menelusuri hutan mendatangi kampung terdekat. Penduduk yang masih menyembah batu besar dan pohon-pohon besar dan wingit sebagai sembahan. Konon tempat bersemayam para dewa. Penduduk menyembahnya. Kau pun bersyiar tentang siapa pencipta semesta.”

Hutan belantara bagi masyarakat Jawa sering disebut gung lewang lewung. Alam yang belum terjamah manusia, masih asli, dan sepi. Masyarakat Jawa memiliki kepercayaan umum bahwa di tempat yang masih gung lewang lewung tersebut terdapat kekuasaan yang adikodrati. Mereka percaya bahwa segala yang ada di alam berupa energi yang masih suci. Energi yang bisa memberikan kedamaian dan ketentraman sekaligus yang bisa merenggut dan memusnahkan. Mereka memberikan sesaji untuk energi alam tersebut demi harmoni kehidupan yang terjaga. Dalam buku Etika Jawa (1984) tertulis bahwa: “Bagi orang Jawa alam adalah wilayah yang dibabad untuk memperoleh tanah yang memberi berkat bagi manusia. Hutan yang belum dibuka adalah tempat roh-roh dan binatang-binatang buas dan oleh karena itu bukan tempat bagi manusia. Bar sebagai tempat yang telah dibudayakan, alam menjadi lingkungan hidup manusia.”

Kartika Catur Pelita menghadirkan cerita perjuangan Amir Hasan untuk memberikan pengertian pada Masyarakat Karimunjawa bahwa di atas segala energi yang ada di alam, bahkan yang berkuasa atas alam semesta beserta isinya ini adalah Allah. Cerpen yang mengajak pembaca untuk berpikir keimanan. Cerpen yang mengingatkan tentang nilai religiusitas dan spiritual.

Tentu tidak mudah mengubah sebuah kepercayaan yang sudah sejak lahir bahkan dari nenek moyang menjadi nafas dalam hidup. Oleh karena itu, Kartika Catur Pelita menuliskan “Setelah menemukan tempat yang cocok, kalian mendirikan hunian, sebagai tempat tinggal. Di sebelah hunian dibangunlah langgar sebagai tempat sembahyang dan mengaji. Kalian membuat beduk untuk penanda masuknya waktu salat  wajib lima waktu. Bila tiba waktunya salat, kau pun menjadi imam, Soleh dan Rahim menjadi makmum. Beberapa waktu, berbulan hanya kalian bertiga yang salat.” Perlu waktu panjang dan perjuangan yang tentunya tidak mudah untuk dilakukan.

Amir Hasan dikenal masyarakat Karimunjawa sebagai Sunan Nyamplungan. Meskipun Kartika Catur Pelita tidak menyatakan panggilan tersebut dalam cerpennya dan tetap memilih menggunakan nama Amir Hasan namun, dalam cerpen ini pembaca diajak untuk mengerti asal-usul alasan masyarakat Karimunjawa menyebunya sebagai Sunan Nyamplungan. “Kau masih ingat saat bapamu mengajakmu keluar dari pondok, lalu kalian berjalan ke pekarangan, menghampiri sebuah pohon besar, pohon nyamplungan. ‘Kau lihatlah dari sini ke arah utara, Nak. Kau lihatlah pulau yang terlihat samar-samar itu, pulau kremun-kremun itu. Bapa ingin kau syiar Islam di sana!’ Kau sesaat terpana. Namun, sesaat saja.” Di bawah pohon nyamplungan itulah mandat dari ayahnya, Sunan Muria, ia terima. Pohon Nyamplungan sebagai penanda dimulainya tugas besar sekaligus  berat yang diterima oleh Amir Hasan. Oleh karena itu, di awal pembuka cepen, Kartika menuliskan: “Perahu kayu yang membawamu bersama dua abdimu dan mustaka masjid serta bibit pohon nyamplungan: pemberian dari Kanjeng Sunan Muria, guru sekaligus ayahandamu, melaju melintasi Selat Muria.” Tentu saja bibit pohon nyamplungan yang ia bawa akan ditanam sebagi penanda dimulainya syiar Islam di tanah Karimunjawa. Pembaca pun mengerti asal usul nama Sunan Nyamplungan.

Dalam cerpen ini, pembaca juga diajak mengerti tentang legenda Ular Edor menjadi buta. “Siang kerontang, matahari belum berada di ubun-ubun, ketika hari itu kau dan kedua pengawalmu menelusuri hutan, kalian hendak mengajar mengaji, ketika kaki kirimu tersandung akar pohon. Refleks kau hendak terjatuh, seekor ular kecil, berwarna hitam, bertubuh pendek, dan sangat berbisa yang berada di dekat pohon malah mematukmu. Kau pun marah. Mengutuk sang ular jahanam itu. ‘Mulai saat ini, dirimu dan keturunanmu akan buta. Tak bisa melihat sepanjang matahari terbit. Seperti hatimu yang gelap saat bertemu dengan aulia yang tengah mensyiarkan kebajikan.’ Sang ular memenuhi takdirnya.”

Sebetulnya cerita tentang ular edor yang sangat berbisa ini berhubungan dengan mitos kayu setigi. Masyarakat Karimunjawa percaya bahwa jika digigit ular edor maka harus diobati dengan cara ditempel kayu setigi. Mereka percaya bahwa kayu setigi bisa membuat racun ular edor menjadi lemah. Kayu setigi harus ditempel tepat pada luka bekas gigitan edor. Namun, Kartika Catur Pelita tidak memasukkan mitos ini dalam cerpennya. Ia justru lebih tertarik untuk memasukkan cerita legenda tentang ikan lele tanpa patil dan keong yang memiliki punggung bolong. Amir Hasan memimpikan ibunya yang mengajaknya ke sebuah sungai kecil berair bening di tengah hutan. Di dalam mimpi itulah ia bertemu dengan dua binatang yang berwujud tidak biasa itu.

Ikan lele dan keong yang berada di Karimunjawa memang dipercaya masyarakat berasal dari Muria. Sunan Nyamplunganlah yang menyebabkan binatang tersebut menjadi banyak di Karimunjawa.  Kartika Catur Pelita menjelaskan dalam cerpennya bahwa ikan lele dan keong itu adalah wujud kerinduan dari ibu Amir Hasan yang belum puas berjumpa dengan putranya. Ibu yang menghabiskan waktu untuk memasak makanan kesukaan anaknya, namun sang anak harus lekas berangkat tanpa menyantapnya. Kisah yang mengingatkan kasih seorang ibu yang selalu tulus dan ikhlas mencintai anaknya. “Kau tak pernah tahu bahwa sepeninggalanmu, ibu yang melahirkanmu sangat kehilanganmu. Sebegal-begalmu sebagai anak, ibumu sangat menyayangimu. Bertahun-tahun dirimu meninggalkan Pesantren Muria, betapa dirinya menyimpan rindu. Rindu berlabuh saat hari itu dirinya mendengar dirimu pulang, dia memasakkan pecel lele dan keong srutup kesukaanmu.” Pembaca memahami bahwa kesibukan seorang anak memang kadang membuat ia seolah tidak punya waktu untuk bertemu dengan ibu yang melahirkan dan menyayangi anak sepenuh hati. Waktu selalu bersaing dengan kematian. Anak yang terlalu sibuk hingga lupa waktu untuk bertemu dengan orang tua kadang berakhir dengan menyesal ketika waktu untuk berjumpa memang telah habis. Meskipun demikian, orang tua tidak pernah membenci anaknya dan mereka selalu mendoakan apapun yang sedang dilakukan dan dikerjakan oleh sang anak. Cerita folklor memang sangat lekat dengan amanat dan nilai-nilai kehidupan. Kartika Catur Pelita mengemasnya dengan menarik sehingga pembaca dapat menangkapnya dengan mudah dan tidak merasa sedang digurui.  

Di akhir cerpen, ia juga menutupnya dengan amanat dan pesan moral untuk pembaca: “Sepanjang usia, matanya buta. Ular Edor namanya, sepanjang matahari terbit dia merasa malu dan bersalah telah menyakiti seorang aulia. Edor terkadang muncul bila hari malam dan mencari mangsa: orang bernasib gelap, yang takdir telah menulis untuk menjadi korbannya.” Manusia menentukan langkahnya sendiri. Cara manusia bersikap dan menyikapi hidup itu mutlak sebagai pilihannya. Begitulah.Urip!

Cerpen kedua yang dimuat pada bulan April adalah “Lebaran Pertama di Solo” gubahan Eko SW Santriyo. Gaya bahasa yang digunakan penulisnya sangat lugas dan mudah dipahami. Ceritanya tentang kehidupan yang umum kita jalani. Sangat realis. Pembaca menduga bahwa alasan cerpen ini dimuat di Suara Merdeka adalah sebagai sebuah pembuktian bahwa rubrik sastra Suara Merdeka serius menjadi sebuah media sastra yang tidak hanya memberikan kesempatan pada para sastrawan yang sudah sangat trampil dalam menciptakan karya sastra, juga memberikan kesempatan pada penulis-penulis pemula yang ingin berkarya. Suara Merdeka menjadi ruang publikasi sekaligus menjadi media pendukung munculnya penulis baru dan tentu saja yang terpenting adalah munculnya karya-karya yang akan mewarnai khazanah sastra Indonesia.

Hal yang menarik dalam cerpen ini adalah Eko SW Santriyo mengangkat kisah peternak ayam. Pembaca diajak memahami kisah ayam yang beranak pinak dalam kandang. “Kandang ayamku tidak besar. Setahun lalu ada 30 ayam babon dan 2 jago diawal”. Pembaca tertawa. Ini perkawinan yang brutal. 15 babon bersama 1 jago. Kira-kira begitu. Imajinasi saja.

Lalu Eko meneruskan ceritanya: “Ayam-ayam itu kubeli di Pasar Kartasura dan Pengging, Boyolali. Kini tinggal 11 babon dan 1 ayam jago.” Pembaca masih tertawa karena membayangkan babon-babon itu didatangkan dari tempat asal yang berbeda untuk dipaksa kawin dan beranak pinak. Sedikit bersyukur karena 1 jago kini hanya perlu kawin dengan 11 babon. Bukan lagi 15. Kita bersyukur saja ini kisah binatang dan bukan manusia. Jika manusia tentu kita akan bersama-sama marah dan menuntut peternak.

Pembaca mendapat keterangan di awal cerita “Ada 17 anak ayam yang menetas pada Ramadan yang baru berlalu, dan aku berharap mereka bisa bertahan hidup dan beranak pinak”. Perkawinan yang menguntungkan peternak. Semakin ayam rajin kawin, akan banyak telur yang bisa dijual atau akan banyak telur yang akan menetas menjadi anak ayam yang akan menambah jumlah. Kita paham tentang keuntungan. Ayam sebagai komoditas dagang.

Namun, pemerhati perempuan patut curiga juga dengan cara pandang penulis terhadap perempuan. Meski sebagian besar ceritanya tentang ayam babon, di tengah cerpen tiba-tiba Eko menuliskan: “Saya tidak tahu kenapa, sebelum pulang Pak Sarto pasang status WA sebuah satire yang intinya jangan mudah percaya tangisan wanita saat minta maaf pada suami saat Hari Raya. Sebab, dalam status WA itu ditulis, biasanya setelah minta maaf dia akan kembali dengan kelakuan semula.” Jelas apa yang tertulis adalah kalimat yang lahir dari bingkai pemikiran patriarki. Menganggap perempuan lebih buruk dari laki-laki. Pemikiran yang menyalahkan perempuan dan menganggap laki-laki sebagai makhluk suci yang tidak memiliki kesalahan. Kalimat tersebut menyiratkan bahwa perempuan adalah pembohong dan tangisan hanya senjata untuk menutupi kebohongan. Dan tentu lawannya adalah lelaki yang diposisikan sebagai makhluk yang paling jujur seantero jagad. Jelas bahwa kalimat yang tertulis tersebut tidak berpihak dan merendahkan perempuan. Meski dianggap sebagai humor atau lelucon, namun lelucon ini lahir dari dunia yang mengagungkan patriarki, yang menganggap posisi laki-laki selalu lebih tinggi, lebih sempurna, dan tidak bercela.

Eko SW Santriyo menceritakan impian sang tokoh yang ingin memiliki peternakan ayam yang membawanya pada kekayaan. “Dari 17 anak ayam itu ditambah indukan yang ada akan membuat saya jadi miliarder. Saya tak perlu pinjaman dari bank lagi kalau mau merenovasi rumah kost di belakang warmindo. Ayam-ayam itu seakan terus memberikan setoran uang pada saya”. Dia bermimpi di siang bolong setelah lebaran. Pembaca menduga mimpi itu semakin menjadi mengingat saat lebaran ayam-ayam banyak diincar sebagai aneka masakan yang membuat harga ayam juga melambung tinggi. Di Indonesia lebaran memang identik dengan ayam. Eko SW memilih tidak menulis cerpen tentang makan ayam saat lebaran, tapi memilih menulis tentang beternak ayam.

Di akhir cerpen ia tiba-tiba melompat menghubungkan dengan Joko Widodo. Karena setting tempat adalah Solo, maka keberadaan Jokowi disinggung dalam cerpen : “Seusai maghrib dan mengaji, kubaca link berita di sosmed seperti biasanya. Saya jadi tahu hari ini juga mantan Presiden Jokowi juga berlebaran dan sholat Ied di Solo. Lebaran pertama setelah purnatuga sebagai presiden. Yang saya tidak tahu apakah lebaran hari pertama di Solo, Pakdhe juga merasakan rasa sepi seperti yang ada dalam batinku. Tak terbayangkan olehku, apakah mantan walikota Solo itu juga mengalami mimpi dalam sadar dalam versi lain seperti mimpiku tentang ternak ayam yang bisa mengantarkan rakyat biasa jadi miliader.” Ketika pembaca membaca ini, maka ingatan berputar pada pernyataan Jokowi dihadapan wartawan saat ia selesai menjabat sebagai presiden dan pulang ke Solo yaitu bahwa Jokowi mau tidur. Tidur identik dengan mimpi. Tentu mimpi inilah yang juga ditanyakan oleh Eko SW Santriyo. Jokowi setelah purnatugas ingin tidur yang berbeda jauh dengan seruannya kala menjabat sebagai Presiden untuk pertama kali. Jokowi selalu menyerukan kata “kerja” yang selalu diulang tiga kali. Pembaca cerpen jadi ikut berpikir apakah rakyat perlu bermimpi atau perlu kerja. Begitulah. Urip!

Cerpen ketiga sekaligus terakhir di bulan April adalah “Di Persimpangan” karya Malik Ibnu Zaman. Melalui cerpen ini, pembaca diajak mengerti tentang kehidupan perantau di kota besar. Ada dua tokoh laki-laki yaitu tokoh aku dan Toni. Keduanya berasal dari Jawa Tengah dan mencoba mengadu nasib di Jakarta. “Ialah orang yang kali pertama aku kenal saat menginjakkan kaki di Tangerang pada pertengahan 2019.” Dua orang perantau yang akhirnya bersahabat karena memiliki kesamaan nasib: sendirian tanpa sanak saudara di kota yang jauh dari rumah. Mereka saling membantu dan menguatkan. Pembaca mengerti banyak perantau yang memilih nekat ke Jakarta tanpa berbekal keterampilan dan pengalaman. Fenomena seperti ini sangat banyak kita temui di kehidupan nyata.

Malik Ibnu Zaman menuliskan ketika kisah persahabatan ini dimulai: “Di sebuah masjid di Pamulang pada pukul 12 malam, aku bertemu dengan Toni. Dia adalah marbot di situ. Berawal dari meminta izin untuk menginap di masjid sampai subuh, berlanjut dengan perkenalan. Ternyata ia masih satu daerah denganku. Bedanya aku tinggal di dataran tinggi, ia ada di dataran rendah. Toni pula yang lalu mencarikan aku tempat kos.” Mereka yang berasal dari daerah yang sama yaitu dari daerah di kaki Gunung Slamet, ketika akhirnya bertemu maka yang terjadi adalah solidaritas kedaerahan. Mereka saling tolong menolong tanpa pamrih.

Niels Mulder (terbaca dalam buku Etika Jawa) menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sangat memperhatikan keharusan bertindak tanpa pamrih ketika mereka berhadapan dengan situasi sosial yang mengharuskannya terlibat di dalamnya. “Bertindak karena pamrih berarti hanya mengusahakan kepentingan sendiri individualnya saja dengan tidak menghiraukan kepentingan-kepentingan masyarakat. Secara sosial pamrih itu selalu mengacau karena merupakan tindakan tanpa perhatian terhadap keselarasan sosial. Sekaligus pamrih memperlemah manusia dari dalam. Karena siapa yang mengejar pamrih-nya memutlakkan keakuannya sendiri.” Masyarakat Jawa yang sangat peduli pada keharmonisan dan keselarasan hidup tentu saja menganggap sikap individual membuat hidup menjadi tidak harmonis karena kerukunan yang seharusnya terjadi menjadi tidak ada. Hal tersebut akan mengacaukan tatanan sosial yang sudah terjaga secara turun menurun. Meskipun tokoh Aku dan tokoh Toni telah berada jauh dari kampung halaman, namun ajaran tersebut masih mereka terapkan.      

Tentu saja harus ada hubungan timbal balik dan “saling” untuk membuat hubungan sosial ini dapat berjalan dengan selaras. Selain pernah berjasa mencarikan kos saat tokoh aku baru datang di tanah rantau, tokoh Toni juga kerap meminjamkan uang saat tokoh Aku membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, Malik Ibnu Zaman membuat peran tokoh Aku sebagai sahabat yang tanpa pamrih, rela, dan ikhlas mendengarkan semua cerita dan keluh kesah tokoh Toni. Utang budi dan utang rasa terbayar dengan hubungan timbal balik semacam ini.

Malik Ibnu Zaman menceritakan tokoh Toni mengalami perubahan karakter setelah ia pindah kerja sebagai asisten seorang politisi. Toni yang awalnya seorang yang saleh karena menjadi marbot masjid, berubah menjadi laki-laki yang sering berganti-ganti wanita. Toni si anak desa di bawah kaki Gunung Slamet berubah menjadi Toni si metropolitan. Ada nilai-nilai dan etika hidup yang berubah. Dalam cerpen itu ada 3 orang wanita yang diceritakan dekat dengan Toni. Yang terakhirlah yang membuat pembaca memahami bahwa ada kaidah dasar kehidupan masyarakat Jawa yang telah dilanggar oleh Toni.

“‘Sekarang ada pembantu baru di rumah bos. Cantik, ramah, enak diajak ngobrol,’ujarnya.  Tetapi ketika aku tanya siapa namanya, ia hanya mengucapkan, ‘Teteh.’ Satu minggu kemudian ia cerita lagi kalau hubungannya dengan teteh semakin mesra.” Jika mencermati kalimat tersebut sebetulnya biasa saja. Hubungan romantisme laki-laki dan perempuan. Namun ketika pembaca membaca seperti apa model hubungan mereka, maka ada etika yang dilanggar oleh Toni.

“Minggu berikutnya ia cerita sudah berciuman dengan Teteh. ‘Hanya sekedar ciuman, tak lebih dari itu,’ ungkapnya. Padahal aku sendiri tak bertanya apakah hanya ciuman saja. Minggu selanjutnya ia cerita, Teteh memberikan cupang di lehernya. Memang benar ada bekas tanda merah di leher. ‘Meremas juga,’ imbuhnya.” Hal yang tidak biasa diceritakan kepada orang lain. Biasanya hubungan seksualitas itu sifatnya intim dan rahasia. Namun tokoh Toni menceritakan dengan gamblang apa yang telah ia lakukan bersama perempuan itu. Hal ini tentu juga sorotan bahwa Toni hanya menganggap perempuan sebagai pemuas hasrat laki-laki. Dan dengan penceritaan ini, ia telah merendahkan si perempuan. Padahal dari kacamata moralitas dia juga telah melakukan hal yang tidak bermoral. Tapi dari kalimat dalam kutipan cerpen tersebut, kita bisa melihat gaya bercerita Toni dalam kerangka pemikiran patriarki. Dia merasa bangga karena ada perempuan yang ia anggap sebagai objek seksual yang bisa direndahkan juga dihadapan orang lain. Dengan bercerita tokoh laki-laki itu menjadi bangga akan kelaki-lakiannya. Keperkasaan dalam penaklukan wanita. Wanita rela melakukan apapun dengan tubuhnya untuk kepuasan seorang laki-laki.

Selain itu, ketika Toni bercerita, ia mengabaikan kaidah kesopanan atau tatakrama orang Jawa. Dia kehilangan kontrol diri untuk mampu menyaring cerita yang seharusnya tidak ia ucapkan. Tokoh aku, yang masih memegang teguh etika dan moral langsung merespons cerita tokoh Toni: “Jangkrik, diseriusin, jangan main-main!” Ternyata tokoh Teteh sudah memiliki suami. Artinya hubungan Toni dan Teteh adalah hubungan perselingkuhan.

Franz Magnis Suseno (1984) menuliskan: “Kita bisa bertolak dari fakta bahwa hubungan seksual dalam masyarakat Jawa hanya diizinkan dalam rangka perkawinan. […] dalam bidang seksual masyarakat Jawa condong untuk bersikap lebih tegas.” Tokoh aku yang masih berpikir etika jawa langsung menghardik tingkah laku Toni: “Merusak tanaman orang ini namanya.”

Di jawa ada ungkapan “aja ngrusak pager ayu” yang bermakna pedoman untuk tidak merusak atau menggangu rumah tangga orang lain. Ungkapan ini ditujukan untuk laki-laki atau perempuan lain agar tidak menggoda atau mendekati suami atau istri orang. Juga ditujukan kepada pasangan suami istri agar mereka berdua terus berusaha menjaga keutuhan rumah tangganya.

Toni menyalahkan Teteh dengan menganggap ia mendapat guna-guna atau ilmu hitam. Sementara tokoh aku memandang bahwa Toni yang bersalah karena mengikuti nafsu. Sebagai upaya penebusan dosa, Toni mengajak tokoh aku untuk berziarah makam-makam di Jakarta. Adegan ini memperlihatkan bahwa Toni sebetulnya masih terikat pada tradisi dan ritual di Jawa.

Di akhir cerita penulis menutupnya dengan kisah kehamilan Teteh. Ia hamil 2 bulan. Waktu yang sama dengan adegan pada saat Toni mengantarkan Teteh ke terminal bus untuk pulang kampung. Meskipun tidak gamblang disampaikan bahwa teteh sedang hamil anak dari Toni, namun pembaca diberikan penanda aroma parfurm yang melekat dalam jaket Toni adalah milik Teteh.

Franz Magnis Suseno memberikan penjelasan: “Kejelekan hubungan seks di luar perkawinan bagi masyarakat Jawa terletak dalam penyelewengan norma masyarakat. Hubungan kelamin di luar perkawinan bertentangan dengan tatanan masyarakat dan menimbulkan gangguan dan perselisihan. Oleh karena itu harus dicegah secara tegas. Jadi mengenai hubungan kelamin pun masyarakat Jawa nampaknya tidak berkepentingan pada prinsip-prinsip moral mutlak, melainkan agar ketenangan dan keselarasan tetap terjaga.”

Dalam hubungan problematik Toni dan Teteh jelas telah melanggar ketenangan dan keselarasan hidup. Oleh karena itu, tokoh Toni pun digambarkan mengalami gejolak hati yang tidak tenang. Malik Ibnu Zaman mengakhiri cerpennya dengan menceritakan perasaan Toni: “Sore itu Toni mengajakku ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Sepanjang perjalanan pergi dan pulang, aku perhatikan ekspresi wajahnya berubah-ubah. Terkadang senyum, dan terkadang sedih.”

Orang Jawa mencari ketenangan jiwa juga melalui ruh leluhur. Oleh karena itu, tidak heran ketika resah, Toni berkunjung ke makam berharap mendapatkan ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi kehidupan. Namun karena ada etika Jawa yang telah ia langgar, ketenangan hidup pun tidak bisa ia dapatkan. Karena ia telah menjalani lakon hidup yang tidak selaras dengan nilai dan norma yang telah ia percaya sepanjang hidupnya sebagai masyarakat Jawa. Begitulah. Urip!

Imaniar Yordan Christy

Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang   

kampung bet kampungbet kampungbet
Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *