Pertunjukan Orang-Orang Berbahaya - Teater Indonesia Kita Foto: Kesit Agung
Bagikan informasi ini

Teater dipahami sebagai salah satu bentuk kesenian yang kompleks. Dalam penggarapannya, teater melibatkan berbagai cabang seni yang tak terbatas pada seni peran saja, namun juga seni musik, suara, visual, tari, bahkan bisa juga melibatkan video mapping. Teater bukan sekadar seni peran, melainkan seni untuk mengomunikasikan ide/gagasan maupun kritik melalui garap cerita yang lazimnya metaforis.

Jika kita hanya berkutat pada titik penyajian teater sebagai ruang ekspresi peran saja maka betapa membosankannya teater itu. Teater disebut pula kendaraan bercerita yang memuat seperangkat pesan-pesan yang ditampilkan dalam seni panggung. Melalui muatan pesan tersebut kita bisa mengemas kritik. Sudah barang tentu kritik yang digagas hendaknya dikemas secara etis dan estetis. Etis dipahami sebagai upaya mengedepankan etika, yaitu seperangkat tata nilai yang disandarkan pada norma yang berlaku di masyarakat, sebelum melakukan tindakan. Lazimnya bertolak pada pertimbangan moral. Sedangkan estetis lebih mengedepankan impresi keindahan untuk mengemas sebuah tindakan. Dua hal ini (etika dan estetika) hendaknya menjadi pertimbangan utama dalam mengemas kritik pada penggarapan teater.

Kritik yang membangun tentu berbeda dengan kritik hujatan, cemooh, dan olok-olok. Penekanannya diawali saat nilai-nilai dasar kritik itu digagas. Kritik yang membangun bertujuan meminimalkan potensi berkurangnya efektifitas capaian. Kritik yang membangun mengelaborasi pemikiran lain yang mendukung, mempertimbangkan gagasan lain yang tak sebangun, bertujuan mengupayakan perubahan ke arah lebih baik.

Di sisi lain, cemooh dan olok-olok dipantik dari rasa ketidaksukaan atau ketidaksetujuan; cenderung provokatif sebagai ujaran kebencian tanpa menekankan hal spesifik apa yang dikritisi. Titik beratnya pada kepentingan kontra-posisi atau bertolak belakang dengan hal atau gagasan yang dicelanya tersebut. Dua hal tersebut memungkinkan untuk dimuat dalam pertunjukan teater.

Persoalannya, terkadang dalam menggagas pertunjukan teater, menulis naskah teater, menyutradarai teater, serta memerankan karakter tokoh teater, kita berpotensi bias dari tujuan awal dan asumsi dasar tersebut. Maka kritik atau cela terasa sama di lidah namun berbeda rasa. Kita seringkali berlindung di balik sindiran, metafor/majasi. Seringkali medium ini digunakan untuk mengelak tudingan dan mengenakan wajah lain saat dikonfrontasi.

Seni kritik etis estetis ini penting sebagai pertimbangan dasar sebelum mulai menggagas, menulis naskah, menyutradarai, serta memerankan tokoh dalam teater. Pada porsi bagaimana kita sepatutnya menuang kritik ini, dan pada batas yang mana kritik ini secara spontan bersalin rupa menjadi celaan? Persoalan ini memang tak mudah dijawab. Dibutuhkan pengendapan dan kedewasaan berkesenian.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *