Bagikan informasi ini

Sastra media cetak atau sastra koran masih memberi ruang kreativitas bagi penulis sastra. Kiriman tulisan terus masuk ke email redaktur. Suara Merdeka masih menyediakan ruang itu untuk memuat tulisan cerpen, puisi, dan esai. Tulisan yang lahir dan hadir dari nama-nama baru atau lama bisa dinikmati pembaca sastra setiap Hari Minggu baik dalam wujud cetak maupun file.

Nasib sastra media cetak atau sastra koran pada 2025 memang kadang mengundang rasa pesimistis. Achiar M. Permana dalam kolom Whuuuszh! Edisi 1/ Oktober 2024 menuliskan kisah kejayaan sastra media cetak atau sastra koran: “Sastra media cetak atau sastra koran, pernah mencapai “masa keemasan”, pada dekade 1970-an dan 1980-an”. Saat ini jelas kejayaan itu telah lama berlalu. Namun, Suara Merdeka masih optimistis dengan ruang sastra Minggu. Pilihan yang berani dan layak mendapat apresiasi.

Tulisan ini akan membahas cerita pendek yang dimuat koran tersebut pada Januari 2025. Di situ, kita bertemu nama lama yang penah rajin mengirim tulisan di Majalah MOP, Suara Pembaruan Minggu, dan Majalah Pertiwi: Andrieska Hanantapradja. Dua cerpennya dimuat di Suara Merdeka bulan Januari yaitu “Lilin Natal itu Hampir Padam” dan “Di Bawah Lampion Merah.” Pembaca tidak hanya membaca karya namun juga ingin mengetahui penulis melalui profil singkat yang tercantum di bagian bawah tulisan. Dalam profil singkat itu, pembaca diajak memahami lakon hidup yang dihadapi penulis.

Persoalan mencari nafkah memang kadang membuat penulis sastra memilih pamit menulis atau undur diri sebentar demi nasib diri dan keluarga. Menulis sastra memang kadang belum bisa membuat penulis berkecukupan apalagi kaya. Kita bisa ikut membaca tulisan Bandung Mawardi “Esai 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Pengarang dan Nafkah” yang dimuat di erakini.id pada 29 Januari 2025. Pembaca akan diajak merenungi perjuangan hidup Pramoedya dalam mencukupi kebutuhan hidup: sandang, pangan, dan papan keluarga. Ia mengutip pernyataan Ajip Rosidi (1981): “Hidup sebagai pengarang di Indonesia bukanlah kehidupan menjanjikan kemewahan duniawi.” Pembaca mencoba mengerti kesulitan hidup pengarang melalu pengakuan Ajip dan Pram.

Oleh karena itu, keputusan Andrieska Hanantapradja yang memilih berhenti berkarya selama 25 tahun karena sibuk bekerja boleh mendapat permakluman dari pembaca. Meski begitu, setelah purnatugas ia mengaku kembali bersemangat menulis. Ia tidak berpikir honor dari penulisan sastra mengingat kondisi media cetak memang sedang sulit. Ia hanya ingin kembali berkarya. Tentu hal ini karena kecintaannya pada dunia sastra. Perpisahan yang membuat rindu karena telanjur pernah berjumpa dengan sastra yang membuatnya jatuh cinta.

Pembaca akan melihat tahapan alur yang sama dari kedua cerpen Andrieska. Kisah perjumpaan dengan kekasih masa lalu, konflik batin yang dialami masing-masing tokohnya, lalu perpisahan. Dalam kedua cerpen, ia mengangkat isu yang sama sebagai penyebab konflik dalam cerita yaitu perbedaan etnis. Isu yang dapat berpengaruh pada kondisi sosial dan budaya tokoh dalam cerita.

Hal yang menarik dari kedua cerpen Andrieska adalah ia menggunakan inisial nama kota yang digunakan sebagai latar cerita. Kota S. Seolah Andrieska ingin memberikan misteri atau mengajak pembaca menebak latar tempat dalam cerita dengan menghadirkan petunjuk nama tempat atau makanan khas dari kota tersebut. Dalam “Lilin Natal itu Hampir Padam” pembaca bisa menemukan petunjuk berupa nama tempat wisata: “Kita di Kota S tak pernah mengalami banjir kan? Kita sering liburan bermain air di Senjoyo, ingat kan?”. Lalu petunjuk berikutnya berupa makanan khas daerah tersebut: “Seperti biasa kami pesan bubur tumpang yang legenda di kotaku. Namun sekarang aku hanya pesan tumpang tahu saja tanpa koyor. Sudah tak berani makan berlemak seperti daging koyor itu.” Selain itu, Andrieska juga menyebutkan nama tempat kuliner yang terkenal di kota S tersebut: “Mbah Sabar yang semakin sepuh, menua, masih gesit melayani pembeli sambil sesekali bergurau dengan pembeli yang mengantre.” Ada lagi: “Dulu kami berdua sering menjadi panitia Natal bersama Kota S. Biasa sebelum pulang kami minum ronde di Mak Pari dekat lapangan.”

Petunjuk berupa nama tempat dan kekhasan kota terus dihadirkan Andrieska di kedua cerpennya tanpa mau menyebutkan nama Kota S. Pembaca memahami ia belum lelah dengan terus menyebutkan petunjuk seperti Pasar Sapi, Lapangan Pancasila, Pecel Madya, Bakpau Luber, atau Pasar Raya. Padahal, nama kota lain ia sebutkan dengan jelas seperti Jakarta atau Semarang. Kita bisa menduga penulis ingin memancing ingatan pembaca tentang perjumpaan mereka dengan Kota S. Nostalgia terhadap sebuah kota yang dijadikan latar cerita juga hak pembaca. Latar cerita tidak hanya menjadi milik tokoh dan penulis namun milik pembaca. Pembaca yang pernah berjumpa dengan tempat atau kekhasan kota akan mudah menebak bahwa latar tempat adalah Salatiga. Sambil membaca cerita, pembaca juga mengingat peristiwa yang pernah dialami saat berjumpa dengan Kota Salatiga. Hal ini akan mendekatkan pembaca pada latar tempat dan suasana yang diharapkan penulis bisa dipahami oleh pembaca.

Meskipun kedua cerpen mengangkat isu perbedaan etnis Tionghoa dan Jawa yang menyebabkan perpisahan tokoh yang dilanda cinta, namun dalam cerpen “Di Bawah Lampion Merah” isu itu dibawakan dengan lebih kuat. Pengarang berhasil menghadirkan perbedaan kehidupan sosial dan budaya tokoh yang berbeda etnis. Dua cerpen ini sangat mewakili perayaan di akhir Desember dan akhir Januari yaitu Natal dan Imlek. Tentu tidak mengherankan jika redaktur memilih memuat cerpen “Lilin Natal itu Hampir Padam” pada awal Januari dan “Di Bawah Lampion Merah” di akhir Januari. Sastra koran memang tidak mengabaikan perhelatan atau perayaan yang terjadi setiap bulan. Sehingga pemilihan tema yang sesuai biasanya akan mudah dilirik oleh redaktur.     

Nama selanjutnya yang terbaca di koran Minggu Suara Merdeka bulan Januari adalah Mohammad Ghofir Nirwana. Ia juga memilih tema perpisahan. Kisah sedih seorang anak yang orang tuanya bercerai. Cerpen dengan judul mengundang tanda tanya  “Dua Wajah Perempuan”. Dalam cerita kita memahami konflik ibu dan anak. Anak yang menyalahkan ibunya atas peristiwa perpisahan yang menyebabkan ia merasa terluka. Mohammad Ghofir Nirwana berhasil menggambarkan perasaan anak-anak yang marah dan dikecewakan orang dewasa. Tema perceraian memang sering dijumpai di sastra media cetak seperti koran atau majalah. Tema umum karena memang isu perceraian di negeri ini masih sering menjadi pembicaraan khalayak. Selain itu, perceraian juga banyak dialami bukan hanya kalangan selebritas namun masyarakat biasa. Sehingga, karya sastra yang membahas isu ini sering diminati. Pembaca ingin melihat nasib yang dialami para tokoh, penyebab perceraian supaya bisa dihindari, dan akibat-akibat dari perceraian yang terjadi. Sastra sebagai pembelajaran bagi pembaca untuk memahami kehidupan.

 Ghofir menghadirkan peristiwa yang berat sekaligus menyakitkan yang dialami perempuan. Tokoh Ibu yang harus bekerja di luar negeri sebagai TKI demi memberi kehidupan bagi seorang anak. Ia melakoni hidup yang berat karena memiliki suami yang tidak bertanggung jawab. Suami yang tidak menafkahi dirinya dan anaknya. Bahkan peristiwa yang menyedihkan dia alami ketika melahirkan putri kecilnya: “Ah, aku jadi teringat bagaimana dulu kau dilahirkan tanpa didampingi seorang ayah, saat kau baru pertama kali melihat dunia.” Perempuan memang masih sering mendapat perlakuan tidak adil dari laki-laki. Perempuan menjadi korban atas sikap laki-laki yang pengecut, brengsek, dan kejam.  

Pembaca mungkin ikut kecewa pada sikap sang anak yang tidak memahami perjuangan ibu dan justru memilih memusuhi ibunya. Namun, Ghofir menahan kekecewaan pembaca dengan menceritakan hal-hal buruk dan jahat yang harus dialami sang anak ketika ia tumbuh tanpa kedua orang tua. Hujatan dari teman harus ia hadapi seorang diri tanpa pernah mengerti takdir yang sedang ia hadapi. Anak yang belum memahami dunia. Perpisahan memang menyakitkan terlebih jika anak yang merasa menjadi korban.

Mohammad Ghofir  Nirwana tidak ingin membiarkan pembaca kecewa atau sedih, ia menghadirkan akhir cerita yang melegakan di mana sang anak melihat ada perempuan lain yang sudah hidup bersama ayahnya. Perempuan yang tidak lebih baik dari ibunya dan ia memahami bahwa ayahnya telah membuat pilihan yang salah dengan menyia-nyiakan ibu serta dirinya. Akhirnya anak memahami bahwa perpisahan adalah pilihan terbaik.

Setelah tiga cerpen berbicara tentang perpisahan, redaktur sepertinya ingin menghadirkan cerita yang membahagiakan supaya rubrik sastra Januari tidak diwarnai mendung serta hujan air mata pembaca. Redaktur memilih cerpen “Seorang Perempuan yang Mencintai Karya-Karya Ahmad Tohari” karya Juli Prasetya. Cerpen dimuat tanggal 17 Januari 2025. Tepat di tengah bulan redaktur menghadirkan perjumpaan yang membahagiakan pembaca. Kisah ringan tentang romansa remaja. Konflik cerita bukan menjadi kekuatan cerpen ini. Cerpen yang malah tampak seperti esai sastra atau kritik sastra. Cerpen ini menjadi unik karena pengarang memilih membahas dan mengomentari karya-karya Ahmad Tohari.

Juli Prasetya menghadirkan tokoh perempuan yang menjadi penggemar Ahmad Tohari sekaligus mengerti teori kesusastraan. Juli Prasetya memilih menghadirkan cerita yang datar. Ia ingin menghadirkan romantisme dalam percakapan yang datar dan pembahasan yang monoton. Pembaca tidak dimanjakan dengan adegan-adegan pacaran yang menggetarkan. Pembaca justru diajak untuk memahami karya Ahmad Tohari. Melalui tokoh perempuan tanpa nama pengagum Ahmad Tohari, Juli Prasetya mengajak pembaca belajar kritik sastra: “Dan menurut saya pribadi, nasib naas yang dialami oleh tokoh-tokoh perempuan di dalam cerpen-cerpen Abah Tohari tersempurnakan di dalam diri Srinthil. Ya Srinthil, salah satu tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Coba kita lihat adegan terakhirnya. Lihat Srinthil, bagaimana ia menari di lorong pasar dengan  cawat kendor sampai ke lutut, itu menurut saya adalah adegan yang sangat luar biasa menyayat, ibu dari segala tragedi yang menggetarkan jiwa saya sebagai seorang perempuan. Srinthil menari seperti itu dalam keadaan mental yang hancur lebur.”

Pembaca yang rajin membaca novel, cerpen, atau puisi pasti memahami bahwa dialog tersebut lebih cocok masuk ke tulisan esai dibanding sastra. Dari awal sampai akhir yang dibahas hanya karya Ahmad Tohari. Pembaca bahkan tidak bisa menemukan nama tokoh dalam cerita. Yang terbaca adalah nama-nama tokoh dalam karya Ahmad Tohari. Namun cerpen ini diniatkan untuk bercerita tentang kisah cinta seorang laki-laki dan perempuan pecinta sastra. Romantisme yang absurd.

Dalam cerpen karangan Juli Prasetya, perjumpaan tidak hanya dialami oleh tokoh laki-laki dan perempuan. Namun, perjumpaan juga dialami oleh pembaca dengan Ahmad Tohari melalui pembahasan karya-karyanya. Pembaca menikmati kritik sastra tanpa merasa terbebani dengan gaya bahasa ilmiah. Pembaca masih bisa tersenyum memahami perasaan dua orang manusia pecinta sastra yang saling jatuh cinta. Ternyata untuk menggambarkan asmara tidak harus selalu dengan pelukan atau kata-kata sayang. Dengan saling memahami dan menerima dunia pasangan juga membuat cerita terasa romantis. Juli Prasetya berhasil menulis cerita cinta yang tidak norak.

Imaniar Yordan Christy

Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *